Universitas Andalas

Menuju Kejayaan Bangsa.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 15 Juni 2011

Teori Lokasi dan Impliksinya

Dalam aktivitas ekonomi, lokasi mempunyai arti penting untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi yang berujung pada meningkatkatnya keuntungan. Begitu pentingnya lokasi ini maka dalam jurusan Ilmu Ekonomi ada satu konsentrasi khusus yang mempelajari lokasi dan segala keterkaitannya dengan aspek-aspek lainnya. Ada satu bidang khusus dalam Teori Lokasi yang membahas mengenai Aglomerasi Industri. Dunia yang semakin mengglobal seperti sekarang ini membutuhkan produsen yang bekerja seefisien mungkin sampai pada kondisi yang optimal, untuk itu dibeberapa negara diciptakan suatu kawasan yang memungkinkan bekerjanya sistem tersebut. Contohnya dapat kita lihat di Batam untuk Negara Indonesia dan di beberapa tempat di belahan negara lain.
Atas itu semua maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam untuk melihat dan mengetahui bagaimana sistem ini dapat berjalan dan meningkatkan perekonomian.
Untuk mengetahui lebih lengkapnya dapat mendownload link di bawah ini...

Link Download

Rabu, 08 Juni 2011

Kondisi Kepemimpinan Indonesia dan Tantangan ke Depan



13063172401210992131

Untuk melihat bagimana kondisi kepemimpinan Indonesia saat ini, ada salah satu pendapat yang dilontarkan oleh Ketua DPR-RI saat sidang dilangsungkan pada tahun 1992. Salah satu poin menarik (dalam Opini Faturochman di Kompas 15/9/1992) dari ketua DPR-RI Kharis Suhud dikatakan antara lain, bahwa ada penurunan keteladanan kepemimpinan yang terjadi sekarang. Apa gerangan tiba-tiba seorang pemimpin dan wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif berujar seperti demikian. Tentu perkataan ini tidak langsung secara tiba-tiba dikatakan olehnya dalam sidang terhormat dan ini mungkin sudah melewati proses yang panjang hingga terlontar kalimat seperti itu. Bagimana dengan kondisi setelahnya? Sepertinya pendapat ini masih relevan dengan kondisi kepemimpinan yang terjadi dalam bangsa ini meskipun “usianya” telah 18 tahun yang lalu diucapkan. Hal ini cukup beralasan mengingat permasalahan yang terjadi di bangsa ini seperti korupsi, penggunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu, kasus kekerasan dan tindak terororisme dan sampai pada etika anggota dewan yang sangat tidak beralasan menonton video porno saat sidang berlangsung, hal ini sangguh menampar wajah bangsa. Kejadian seperti ini seperti tidak kunjung usai untuk segera dituntaskan. Ditambah lagi mulai semakin maraknya aksi-aksi demo menolak kepemimpinan yang terjadi akhir-akhir ini semakin memperkuat indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak diinginkan masyarakat dari sosok seorang pemimpin. Statement-statment mengenai “krisis kepercayaan” yang mulai berkembang di masyarakat mulai diangkat dalam diskusi-diskusi yang dilakukan stasiun televisi. Lagi-lagi ini memperkuat bahwa krisis kepemimpinan mulai menjadi eforia gunung es yang sewaktu-waktu akan meledak dan akan menimbulkan terulangnya kembali reformasi yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa ini masih merupakan sekelumit masalah yang sebenarnya masih banyak terjadi di dalam masyarakat dan tentu dibutuhkan sosok seorang pemimpin yang berani, tegas dan bijaksana untuk menyelesaikannya.

13063172962076723751

Permasalahan kepemimpinan dan tantangan masa depan

Menjadi pemimpin tidak mudah. Lebih sulit lagi menjadi pemimpin yang baik. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka tidak layak menjadi seorang pemimpin. Ambisi yang besar sering menjadi modal satu-satunya (Faturochman, 1992).

Ini merupakan masalah yang terjadi dalam dinamika kepemimpinan kita saat ini. Dimana orang-orang merasa bahwa mereka adalah seorang pemimpin dan mampu memimpin. Pemimpin-pemimpin “karbit” kerap bermunculan ke panggung politik. Partai tidak lagi menjadi proses pendidikan untuk menjadi pemimpin, partai hanya dijadikan kendaraan politik semata dengan uang sebagai motor penggeraknya. Tidak jarang juga kepopuleran menjadi indikator penting sebagai salah satu yang dipaksakan.

Faturochman berpendapat bahwa pola kepemimpinan tidak banyak berubah. Namun tuntutan masyarakat yang banyak berubah sejalan dengan perubahan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan punya andil besar dalam hal ini. Karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan masyarakat seakan mengikuti perubahan ini. Masyarakat merasa terpaksa untuk mengimbangi perubahan, terlebih dalam negara-negara berkembang dimana masih banyak kehidupan masyarakatnya jauh dari kesan modern yang dipenuhi dengan perangkat-perangkat teknologi canggih. Hal ini dapat kita temui dalam masyarakat Indonesia, yang berada di suku-suku pedalaman Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Papua.

Permasalahan lain dari kepemimpinan kita adalah kurang tegas dalam memimpin sehingga masyarakat menjadi bingung dengan pola kepemimpinan yang berkembang. Ditambah lagi dengan bumbu-bumbu politik pencitraan yang menjadi landasan dalam bertindak. Sehingga jika permasalahan muncul membutuhkan waktu yang sangat lama untuk segera diantisipasi dan ditanggulangi. Hal-hal lain yang juga mulai berkembang yaitu paradigma berpikir tentang seorang pemimpin. Kecenderungan yang terjadi dalam pola kepemimpinan kita adalah menganggap dirinya sebagai “raja” yang harus disembah dan dipuja-puja. Ketika para pemimpin datang berkunjung maka blokade-blokade jalan dilakukan dengan dalih pengamanan yang bisa dianggap terlalu berlebihan.

Selain itu, tantangan terberat bagi seorang pemimpin, menurut Locke adalah menanamkan visi yang sudah dikembangkan kepada anggota organisasi. Ini merupakan hal esensial yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kepada anggota-anggotanya sehingga segenap anggota dapat mengerti dan memahami visi yang menjadi tujuan organisasi atau perusahaan yang mereka ikuti. Dengan mengetahui visi maka segenap tindakan para anggota menuju ke arah tercapainya visi tersebut. Tidak hanya itu, pemimpin mempunyai kewajiban lain yaitu menghidupkan dan memberi energi pada visi agar dapat menjadi roh seluruh anggota organisasi.

13063171581044627323

Solusi pemecahan

Karena pemimpin merupakan sesuatu yang tidak dibawa lahir, maka dari itu sistem pendidikan akan membawa andil besar dalam menjawab kebutuhan pemimpin yang mengerti setiap masalah yang terjadi dan dapat memberikan kontribusi dalam penyelesaiannya. Sehingga seorang pemimpin seharusnya dapat membuka mata dan pikiran agar setiap masalah yang berkembang dapat diatasi dengan baik. Untuk mewujudkan hal ini maka dibutuhkan seorang pemimpin untuk mau belajar tidak hanya dalam lingkup pendidikan resmi atau formal namun juga pendidikan non formal. Seperti yang diungkapkan oleh Nisrul irawati bahwa tantangan seorang pemimpin semakin kompleks dan rumit untuk itu seorang pemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang harus belajar, harus membaca, harus mempunyai pengetahuan mutakhir dan pemahamannya mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpin. Selain itu, pemimpin juga harus memiliki kredibilitas dan integritas, dapat bertahan, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Kalau tidak, pemimpin itu hanya akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau bahan tertawaan dalam kurun sejarah kelak dikemudian hari.


Sumber gambar

[1]

[2]

[3]

Pasar Tradisional VS Pasar Modern

13057079541415108776 VS 13057081271141181566

Dewasa ini telah terjadi revolusi supermarket global yang merambah, tidak saja di kota Jakarta, tetapi kota-kota lain di luar Jawa (M. Husein Sawit, 2008) Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan kepada kita, apakah pasar tradisional akan tetap eksis di era munculnya supermarket global atau pasar modern sampai ke kota-kota kecil?

Untuk menjawab hal ini diperlukan suatu kajian yang mendalam dan komprehensif akan tetapi penulis tidak memulai dari hal itu tetapi berusaha melihat dan menjawab pertanyaan ini berangkat dari perbedaan-perbedaan yang sebenarnya dapat kita lihat dan rasakan sendiri.

Abad ini ditandai dengan majunya teknologi dan informasi yang menembus batas-batas antar negara atau sering disebut dengan globalisasi. Globalisasi memperlihatkan kepada kita bahwa revolusi banyak terjadi dalam berbagai hal, termasuk sebuah pasar. Peran ini membawa konsekuensi penting terhadap perubahan pola konsumsi dan budaya dalam tatanan hidup sehari-hari masyarakat dunia. Ada beberapa perbedaan penting yang perlu dan dapat kita lihat pasar modern dengan pasar tradisional.

Pertama dari segi kebersihan. Supermarket atau pasar modern merupakan suatu pasar yang memiliki manajemen yang baik. Terkelola dengan sistem yang telah dibuat dengan sedemikian rupa dan karyawan yang bekerja dengan bagian yang telah ditentukan. Salah satunya yaitu petugas kebersihan. Di dalam pasar modern dapat kita lihat bahwasanya banyak petugas kebersihan supermarket yang bekerja setiap hari seperti membersihkan lantai dari kotoran yang melekat. Hal ini dilakukan karena kebersihan merupakan suatu indikator penting bagi sebuah supermarket dan merupakan sebuah pelayanan yang diberikan kepada konsumen.

Perbedaan kedua yaitu harga. Dalam pasar modern, konsumen tidak perlu diperhadapkan dengan kebingungan berapa harga dari setiap produk yang ingin dia beli karena harga telah dicantumkan dalam setiap produk yang mereka tawarkan. Ini merupakan suatu perubahan penting dari strategi penjualan yang dilakukan oleh pasar modern.

Perbedaan ketiga yaitu kemanan. Dalam sebuah pasar, keamanan merupakan indikator penting dan sebagai salah satu penunjang sisi pelayanan. Di dalam pasar modern kita dapat melihat petugas kemanan yang berjaga-jaga mulai dari supermarket di buka sampai ditutup kembali. Hal ini akan membuat konsumen merasa aman dalam berbelanja, hingga di hari-hari berikutnya konsumen akan terus merasa tertarik untuk berbelanja.

Selain itu perbedaan penting lain yaitu modal. Supermarket merupakan salah satu bisnis dimana pemainnya memiliki modal yang besar dan kuat dan hal ini dapat berpengaruh terhadap harga jual dari suatu produk yang mereka tawarkan kepada konsumen. Tidak hanya itu, pasar modern memiliki jaringan distribusi yang besar dan kuat sehingga jaminan pasokan untuk sebuah barang mendapat suatu kepastian dari produsen barang tersebut.

Jika dilihat dari sisi pasar tradisional, ada beberapa hal penting yang menjadi kekuatan dan daya tarik utama. Pertama yaitu harga. Salah satu dan sampai saat ini menjadi daya tarik bagi pasar tradisional yaitu harga yang “sedikit lebih murah” dibandingkan dengan pasar modern. Sehingga pangsa pasar tradisional terbanyak sampai saat ini yaitu masyarakat dari golongan menengah ke bawah. Masyarakat dari golongan ini lah yang sampai saat ini masih bertahan untuk berbelanja di pasar tradisional. Meskipun kecenderungan yang ada saat ini bagi masyarakat golongan menengah mulai beralih untuk berbelanja di supermarket atau pasar modern.

Kedua yaitu komoditi. Sampai saat ini, komoditi yang diperdagangkan dalam pasar tradisional memiliki banyak jenis. Sehingga sesuatu produk yang dibutuhkan oleh pembeli yang mayoritas masyarakat golongan menengah ke bawah tersedia dalam berbagai jenis dan varians. Tidak jarang masyarakat untuk mencari suatu produk atau barang tertentu yang menjadi tujuan mereka yaitu ke pasar tradisional.

Ketiga yaitu budaya tawar-menawar. Dalam pasar tradisional, harga suatu produk tidak dicantumkan dalam kemasan produk atau barang sehingga antara penjual dan pembeli atau konsumen terjadi interaksi tawar-menawar dalam menjual dan membeli suatu produk untuk mencapai kesepakatan harga yang diinginkan kedua belah pihak. Atau antara lain antara pihak penjual dan pembeli sama-sama tidak dirugikan.

Keempat yaitu lokasi. Hingga saat ini, pasar tradisional merupakan suatu pasar yang memiliki lokasi pasar yang strategis karena berada di dekat pemukiman penduduk. Lokasi yang berada di dekat pemukiman penduduk merupakan unsur yang sangat penting karena lokasi menentukan keefektifan dan keefisienan suatu aktivitas atau dengan kata lain jarak merupakan hal vital dalam penentuan suatu lokasi pasar.

Dari uraian diatas dapat kita ambil kesimpulan yaitu perlu adanya peran yang kuat bagi pemerintah untuk membantu pasar tradisional memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki seperti merevitalisasi pasar tradisional, memberikan kredit murah bagi pedagang-pedagang tradisional serta memberikan jaminan rantai distribusi yang jelas bagi kemanan pasokan bahan baku atau produk yang diperdagangkan oleh penjual di pasar tradisional. Jika hal ini tidak segera dilakukan, bukan tidak mungkin pasar tradisional akan mati oleh deras dan kuatnya persaingan. Dan jika hal ini terjadi, hilang dan lenyap sudah ikon pasar rakyat yang menjadi basis ekonomi rakyat.

Sumber gambar

[1]

[2]

Air & Manusia; Manusia & Air


Air merupakan kebutuhan dasar hidup manusia. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika air yang ada di bumi habis atau tidak dapat dipergunakan lagi. Mungkin saja ini akhir dari perjalanan umat manusia dibumi. Atau apakah mungkin para ilmuwan di bumi telah meneliti jika air di bumi habis atau tidak dapat dipergunakan lagi maka umat manusia di bumi akan diungsikan ke salah satu planet yang telah ditemukan dan dapat menopang hidup manusia terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti air. Jika hal ini memang benar terjadi, untuk saat-saat tertentu umat manusia dapat saja berlapang dada dan bergembira sejenak, namun dapatkah kita membayangkan permasalahan apa yang akan terjadi berikutnya? Hidup di tempat yang baru tentu membutuhkan penyesuaian. Organ tubuh tentu tidak mudah untuk menerima lingkungan yang baru. Apalagi (jika hal ini benar terjadi) lingkungan yang baru itu sangat berbeda dengan keadaan yang sebelumnya.

Dari diskusi dengan teman-teman, ada suatu hal yang menarik mengenai wacana akan diungsikannya umat manusia jika suatu kedaan yang maha dahsyat terjadi dibumi. Para peneliti dan ilmuwan dunia yang digawangi Amerika Serikat dan negara-negara lainnya sangat gencar meneliti dan berusaha menemukan planet-planet asing yang serupa kharakteristiknya dengan planet bumi. Apakah ini suatu upaya penyelamatan yang akan dilakukan para ilmuwan jika memang benar adanya bencana maha dahsyat yang akan terjadi dibumi? Mungkin saja ini merupakan langkah awal untuk menuju ke sana. Selain itu, para ilmuwan juga aktif meneliti kira-kira tumbuhan apa yang dapat bertahan hidup dan menggunakan mekanisma apa agar tumbuhan itu dapat tumbuh dan berkembang layaknya ditanam di planet bumi. Tidak hanya itu, para ilmuwan juga mulai berupaya membuat tempat tinggal diplanet-planet yang nantinya dapat dihuni umat manusia. Apakah ini suatu pertanda bahwa para ilmuwan sudah memprediksikan tidak lama lagi bumi akan hancur? Diskusi kian berlanjut taatkala salah satu teman saya berujar, mungkin saja ini sebuah reaksi sebagai penyelamatan diri jika “KIAMAT” yang diramalkan kitab suci akan terjadi? Mungkin saja hal ini dapat dibenarkan. Jika memang benar adanya bencana maha dahsyat yang akan meluluhlantakkan bumi dan segala isinya ini terjadi, maka umat manusia sudah merasa siap untuk mengatasinya. Mungkin saja dapat dikatakan aksi perlawanan terhadap Tuhan??? Mungkin?? Saya tidak dapat mengatakan IA atau TIDAK karena saya tidak berhak untuk itu…!!!

Kembali ke permasalahan air, di Indonesia air merupakan permasalahan yang tidak kunjung selesai dan habis untuk diperbincangkan. Kenapa? Di salah satu sisi, air sangat dibutuhkan di daerah-daerah tertentu, dan untuk mendapatkannya membutuhkan materi dan tenaga yang besar. Atau dengan kata lain membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pernah terjadi air diperdagangkan dengan sangat mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan dengan premium yang diperdagangkan. Hal ini membuktikan bahwa air merupakan barang yang sangat dibutuhkan dan sangat berharga bagi manusia. Di sisi yang lain, daerah-daerah di Indonesia diperhadapkan dengan sangat melimpahnya air dan menjadi salah satu sumber masalah. Untuk mengatasinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Kita ambil contoh di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, daerah ini merupakan tempat yang hampir setiap tahunnya diberi berkah air yang sangat banyak. Sehingga banyak warga yang mengeluh karena begitu banyaknya air yang tersedia di tempat ini. Sangat kompleksnya masalah air ini perlu disikapi dengan bijaksana, jika tidak maka hal-hal yang tidak terduga dapat terjadi tanpa antisipasi yang baik, padahal generasi terdahulu telah mewanti-wanti generasi sekarang dan generasi selanjutnya dengan pribahasa “SEDIAKAN PAYUNG SEBELUM HUJAN” dan juga “LEBIH BAIK MENCEGAH DARI PADA MENGOBATI”… Kalimat ini seharusnya menjadi sindiran yang dapat membuka mata hati dan pikiran rasional kita dalam bertindak dan melakukan sesuatu. Sehingga masalah yang saat ini terjadi seperti kekurangan air (akibat dari iklim global yang tidak menentu) atau pun kelebihan air (akibat dari pembuangan sampah yang tidak benar, sehingga dapat menyumbat aliran air, dan aktivitas bisnis lainnya yang dapat menyebabkan timbulnya banjir seperti maraknya pembuatan rumah hunian dikawasan resapan air).

Sumber gambar [1]

Libya dan Perjuangan Rakyat


Akhir-akhir ini banyak hal telah terjadi di dunia. Mulai dari bencana alam yang terjadi di Jepang dan bahaya radiasi nuklirnya, sampai pada revolusi yang sedang terjadi di Libya. Revolusi yang sebelumnya terjadi di Tunisia dan Mesir, berhasil menumbangkan pemerintahan Zine El Abidine Ben Ali yang berkuasa di Tunisia selama 23 tahun serta Hosni Mubarak yang telah memimpin Mesir selama 30 tahun. Hal ini memberikan motivasi bagi rakyat Libya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan rakyat Tunisia dan Mesir.

Revolusi yang saat ini terjadi di Libya, berada pada masa-masa penting dan bersejarah bagi rakyat yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka, yang selama ini telah direbut oleh pemerintahan yang dipimpin oleh Khadafi dan telah berkuasa selama 41 tahun.

Perjuangan rakyat Libya ini mendapat dukungan penting dari dunia. Seperti operasi zona larangan terbang yang disahkan oleh badan PBB, serta dukungan dari badan NATO yang terdiri dari Amerika Serikat, Prancis dan Inggris, melalui dengan cara mengirimkan pasukan tempur mereka yang bernama “Pasukan Koalisi” yang bertugas melemahkan kekuatan tentara pemerintah dan melindungi rakyat sipil dari serangkaian serangan pasukan yang dipimpin Khadafi.

Perjuangan yang Berharga Mahal

Segala tindakan punya harga, termasuk perjuangan yang saat ini tengah dilakukan oleh rakyat Libya. Perjuangan ini dibayar dengan banyaknya korban jiwa yang jatuh dari kedua belah pihak, baik itu pihak yang pro kepada pemerintah juga terhadap pihak yang kontra kepada pemerintah. Menurut Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (IFHR), sedikitnya 640 orang terbunuh dalam aksi protes terhadap rezim Moamar Khadafi di Libya (Mediaindonesia.com 23/2/2011) dan mungkin akan terus dapat bertambah. Selain itu, perjuangan ini juga berakibat banyaknya gedung-gedung seperti pusat pemerintahan dan pusat pemukiman penduduk yang rusak. Tidak hanya itu, sebagai salah satu negara produsen minyak, Libya mengalami dampak yang serius dalam bidang ekonomi, terutama pertumbuhan produksi minyak yang dihasilkannya. Sebelum terjadi krisis, Libya memproduksi minyak sebanyak 1,6 juta barrel per hari. Saat krisis berlangsung saat ini, produksi minyak Libya turun tajam hingga hanya 400.000 barrel per hari (Kompas, 13/3/2011)

Berakhirnya perjuangan ini akan membawa pengaruh penting bagi pemerintahan Libya kedepannya. Pengaruh ini akan berdampak bagi siapa saja yang nantinya akan duduk sebagai wakil rakyat yang akan menjalankan roda pemerintahan. Kejadian ini juga menjadi hari paling bersejarah bagi rakyat Libya dan dunia, yang memperlihatkan bahwa, tidak selamanya rakyat akan diam jika hak-hak mereka dirampas oleh “orang-orang” yang telah diberikan kepercayaan untuk menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi berbuat yang sebaliknya dan tidak diharapkan oleh rakyat.


Sumber gambar [1]

Wajah Baru Pasar Tradisional


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu hal yang tidak dapat kita bantah. Hadirnya telfon, televisi, kendaraan bermotor, peralatan rumah tangga, dan berbagai teknologi lainnya merupakan contoh yang tampak nyata berada disekitar kita. Hal ini yang kemudian menjawab permasalahan dari tidak terbatasnya kebutuhan manusia.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup semakin berkembang. Lamarck dengan teori adaptasinya mengatakan “akibat adanya perubahan lingkungan akan mengakibatkan perubahan pada organ yang sering digunakan sedangkan yang tidak akan mengalami penyusutan” Hal ini dapat terjadi pada manusia, akibat dari perubahan sosial yang disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peningkatan standar kebutuhan terhadap rasa aman dan nyaman merupakan suatu hal yang tidak terelakkan untuk dipenuhi. Walaupun dalam perkembangannya, indikator rasa aman dan nyaman, yang merupakan kebutuhan manusia, mungkin dapat berbeda disetiap zaman, tergantung dengan keadaan lingkungan yang ada pada saat itu.

Hal ini lah yang kemudian ditangkap dan dijadikan peluang oleh pasar modern untuk hidup ditengah-tengah masyarakat yang mengalami perkembangan tersebut. Lantai yang bersih, ruangan ber-ac, dijaga dan dilayani petugas keamanan dan pelayan yang menarik dan ramah, merupakan tantangan zaman yang telah dijawab oleh pasar modern pada saat ini.

Disisi lain, kita melihat perkembangan pasar modern di Indonesia jauh berbeda dengan nasib yang dialami “saudara tertuanya” yaitu pasar tradisional. Hasil jejak pendapat Kompas mencatat sikap responden terhadap mengunjungi pasar modern dan tradisional. Sebanyak 40,1 persen responden memilih berbelanja di pasar modern, seperti supermarket dan hipermarket, sedangkan sebanyak 39,1 persen responden memilih berbelanja di pasar tradisional (Kompas 14/4/2010)

Sampai dengan saat ini, pasar tradisional masih bergulat dengan masalah lamanya yaitu kemanan dan kenyamanan yang belum terselesaikan, tampilan pasar, jam operasional yang terbatas, kualitas barang, dan tidak adanya promosi penjualan yang dilakukan pedagang. Kekuatan modal dan jaringan distribusi yang lemah juga menjadi hambatan lain dalam pasar tradisional untuk bersaing dengan “saudara barunya” yang memiliki jaringan distribusi dan modal yang kuat dan besar dan didukung dengan sistem manajemen yang baik.

Beberapa hal yang mungkin dapat diunggulkan dan menjadi daya tarik pasar tradisional saat ini yaitu harga yang “sedikit lebih murah” dan terjalinnya budaya tawar-menawar yang masih dijaga sampai dengan saat ini, persaingan alamiah antar pedagang dan lokasi yang strategis dengan pemukiman penduduk.

Untuk itu, perlu peran yang kuat dan serius dari pemerintah dengan menciptakan regulasi yang membatasi ruang gerak dari pasar modern dan bantuan modal kepada pasar tradisional, agar stigma negatif yang selama ini melekat dalam pasar tradisional dapat segera hilang. Hal ini akan sangat membantu pasar tradisional untuk “memoles” wajah lamanya menjadi wajah baru yang jauh dari kesan negatif.


Sumber gambar [1]

Surat untuk Pak (Tani)


Pertanian merupakan kegiatan aktivitas ekonomi manusia, mengelola dan memanfaatkan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang dicirikan melalui faktor pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaaan pangan dan bahan baku industri, peningkatan pendapatan masyarakat, penyediaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan sehingga tercipta kemakmuran yang diharapkan.

Sumbangsih yang sangat besar tersebut, baik itu secara langsung maupun tidak langsung, tidak serta merta terlepas dari permasalahan yang melekat pada sector pertanian. Masalah yang paling krusial dan sampai saat ini belum teratasi dengan bijaksana yaitu pengembangan infrastruktur pertanian. Realita yang terjadi saat ini yaitu, 72% jalan yang merupakan infrastruktur pemasaran hasil pertanian, yang terdaftar di kabupaten di seluruh Indonesia, separuh diantaranya rusak parah, dan hanya 19% saja dalam kondisi baik. Begitu juga dengan irigasi, dalam kurun waktu 25 tahun pembangunan Indonesia, rehabilitasi irigasi yang diadakan di 3juta unit irigasi di seluruh Indonesia hanya dilakukan sebanyak 2 kali. Padahal, infrastruktur pertanian merupakan suatu hal yang sangat krusial dan potensial yang dapat menunjang dan mengembangkan produksi hasil pertanian.

Untuk itu, diperlukan suatu solusi yang tepat dan bijaksana dalam pemanfaatan dan pengembangan infrastruktur pertanian, yang dapat berimplikasi nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan negara pada umumnya. Sehingga kita sebagai bangsa,siap dalam menghadapi era globalisasi yang semakin kompetitif.


Sumber gambar [1]

Materi KKN



Beberapa minggu yang lalu, saya beserta teman-teman yang lain melangsungkan perkuliahan pembekalan untuk mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan dilaksanakan bulan Juli-Agustus 2011. Para peserta antusias mengikuti perkuliahan. Hal ini terlihat dengan banyaknya peserta yang hadir dan mengajukan pertanyaan kepada dosen pengajar mengenai perihal yang akan dilakukan atau persiapan apa saja yang diperlukan hingga pengalaman-pengalaman para dosen pengajar ketika ikut serta dengan para Mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.
Sabtu tgl 11 Juni 2011 akan diadakan ujian tertulis (KKN), bagi temen-temen yang membutuhkan materi KKN monggo di download di link yang ada di bawah. Semoga KKN ini akan menambah wawasan dan pengetahuan kita agar dapat memahai hal nyata yang terjadi disekitar kita dan harapannya kita dapat ikut serta untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar, bangsa dan negara...!!!

Materi download
1. Filosofi KKN
2. Pelaksanaaan KKN
3. Pembuatan rencana kegiatan
4. Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 07 Juni 2011

Negeri yang Kaya, tetapi Miskin

Kesejahteraan suatu bangsa merupakan tujuan utama adanya sebuah negara, tidak terkecuali Indonesia. Hal ini dapat terlihat dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…”

Untuk mencapai hal tersebut, Indonesia, melalui pemerintahan yang dibentuk, melakukan berbagai cara agar kesejahteraan bangsa dapat tercapai. Salah satunya yaitu menetapkan landasan dalam menjalankan sebuah perekonomian. UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dengan tegas mengatakan hal ini, bahwa, “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” dan untuk itu, pemerintah, melalui wakil rakyat yang telah diutus, menetapkan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, seperti yang dijelaskan dalam pasal 33 ayat ke-3, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” Laut dan segala hal yang berada didalamnya merupakan suatu hal yang termaktub dalam pasal 33 ayat 3 tersebut.

Sebagai sebuah negara yang memiliki 17.000 lebih pulau, dengan luas daratan sekitar 2 juta m2 dan terdiri dari 5,8 juta m2 lautan (Kompas 24/12/2008), semestinya merupakan suatu modal yang kuat bagi indonesia untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Tidak seperti saat ini, dimana rakyat miskin masih banyak ditemukan disetiap daerah. Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33 persen). Suatu jumlah yang terbilang banyak bagi Indonesia yang kaya.

Prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai 149,94 miliar dollar AS. Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai 31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari 56 miliar dollar AS, bioteknologi laut total 40 miliar dollar AS, wisata bahari 2 miliar dollar AS dan transportasi laut sebesar 20 miliar dollar AS (Kompas, 6/11/2009) Besarnya potensi tersebut jika dikelola secara maksimal akan dapat membuka lapangan kerja baru, yang berimplikasi pada pengurangan jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Untuk itu, peran dari pemerintah sangat diperlukan dalam mengelola dan memanfaatkan kekayaan laut yang besar tersebut, melalui dengan cara melakukan promosi, memberikan bantuan modal dan pengetahuan kepada masyarakat dan dunia usaha, serta melakukan sinergi dengan dunia pendidikan dalam melakukan riset dan pengembangan kedepannya, sehingga tujuan dan cita-cita negara dapat terwujud.

Senin, 06 Juni 2011

Mensinergikan antara Pemerintah dan Pihak Swasta dalam Pengelolaan Sampah Menuju Indonesia Bersih



Sampah merupakan salah satu masalah yang akan selalu dihadapi masyarakat setiap hari. Keberadaan sampah akan dapat mengganggu kenyamanan dalam beraktivitas juga dapat mengurangi keindahan suatu tempat. Selain itu, sampah juga dapat menyebabkan perkembangbiakan bakteri dan dibawa oleh hewan dan kemudian ditularkan baik sengaja maupun tidak sengaja. Untuk itu perlu suatu cara agar masalah sampah dapat diatasi dengan bijak.

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhhirnya suatu proses (wikipedia) atau barang/benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi (KBBI). Jika dilihat dari pengertian terminology kata, baik dijelaskan Wikipedia dan KBBI, terdapat suatu arti bahwa sampah adalah sisa atas suatu konsumsi baik yang digunakan untuk konsumsi maupun produksi dan tidak dapat dipergunakan sehingga jalan terbaik yang harus dilakukan yaitu membuangnya.

Sepintas, hal ini memang merupakan jalan terbaik, sebab, jika ditumpukkan dan tidak dibuang akan menimbulkan hal-hal yang membahayakan kesehatan dan mengurangi keindahan. Akan tetapi jika aktivitas ini dilakukan setiap hari dan terus menerus tentu akan menimbulkan hal yang lain lagi, yaitu penumpukan sampah seperti yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Tentu kejadian ini akan menimbulkan masalah baru, sehingga diperlukan penyelesaiannya. Salah satu yang dapat dilakukan yaitu mencari tempat pembuangan sampah akhir yang baru. Sepintas, masalah akan segera dapat teratasi, namun hal ini tidak akan berlangsung lama, karena pertumbuhan sampah akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas manusia baik produksi maupun konsumsi. Sehingga diperlukan suatu cara agar masalah ini segera dapat diatasi.

Indonesia, merupakan negeri yang kaya akan sumber daya, baik alam maupun manusia. Total seluruh penduduk indonesia saat ini kurang lebih 230 juta jiwa. Hal ini membuktikan betapa indonesia memiliki asset yang besar dalam sumber daya manusia. Sebagai negeri yang besar, Indonesia sebenarnya dapat memanfaakan potensi yang besar tersebut. Sebagai contoh, tidak sedikit bahwa dalam hal pemanfaatan samapah telah banyak berdiri unit-unit usaha mikro yang beranggotakan tenaga kerja yang dapat diklasifikasikan dalam industry rumah tangga. Unit-unit usaha ini memulai usahanya dengan memanfaatkan sampah yang ada disekitar merika. Berangkat dari peluang yang diamati, unit-unit usaha ini menghasilkan keuntungan yang dapat digunakan untuk membiayai upah tenaga kerja.

Saat ini kita ketahui pemerintah pusat maupun daerah mempunyai anggaran untuk membiayai pekerja-pekerja dalam mengamnbil sampah dari masyarakat. Sebenarnya hal ini dapat diganti dengan metode dan cara yang lain.

Beberapa tahun yang lalu telah berdiri bank sampah. Ini merupakan suatu solusi yang dapat disikapi dengan baik oleh pemerintah. Hendaknya pemerintah menyediakan anggaran dana dan mendirikan badan usaha yang membeli sampah atau dengan kata lain, pemerintah sebagai bank sampah yang bertugas membeli sampah dari masyarakat sesuai dengan jenis sampah yang dimiliki oleh masyarakat. Ini merupakan suatu insentif baru yang dapat dijadikan masyarakat sebagai tambahan pendapatan. Implikasinya yaitu, masyarakat akan sadar bahwa sampah merupakan sesutau yang bernilai dan tidak dibuang percuma begitu saja.

Asumsi dari solusi ini yaitu pemerintah melakukan sinergi dengan unit-unit usaha yang berada di masyarakat, sehingga peran pemerintah sebagai pemasok bahan baku bagi unit-unit usaha yang telah berdiri dan akan berdiri. Selain itu, pemerintah juga hendaknya memberikan kemudahan kepada unit-unit usaha seperti fasilitas kredit yang berbunga rendah, penjaminan akses pasar dan bahan baku, agar unit-unit usaha pengelola sampah dapat berkembang dan menciptakan ide- ide dan inovasi yang baru sehingga stigma tentang sampah sebagai barang yang sebaiknya dibuang percuma dapat segera hilang. Karena sampah merupakan sesuatu yang bernilai strategis.

Sumber gambar [1]

Indonesiaku?





Jujur, sebenarnya saya kebingungan ingin menaruh catatan ini di rubrik apa. Untuk itu saya taruh saja catatan kecil ini di kategori peristiwa - unik. Mengapa? Menurut saya, kita adalah bangsa yang unik. Tidak hanya budaya, dan manusianya, tapi juga negaranya. hehe….

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang telah lanjut usia.

Mengapa masih dikatakan berkembang? Karena dari segala lini kehidupan, kita belum menunjukkan suatu prestasi yang dapat dikatakan sebagai hasil dari masa trasnsisi. Dari dulu sampai sekarang label “development country” masih melekat dipundak kita. Seakan tidak mau lepas!!! Tidak ingin lepas atau kita yang tidak ingin melepaskannya?

Dan mengapa dikatakan telah lanjut usia?

Jika dilihat dari segi usia, Negara Indonesia bukanlah tergolong sebagai Negara baru. 65 tahun merupakan perjalanan panjang dari sebuah Negara, dan hal itu memperlihatkan kepada kita dan dunia bahwa Indonesia telah lama berdikari.

Selain itu, jika dilihat dari sejarah, bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang telah lama ada dengan budaya dan tradisinya yang masih melekat sampai saat sekarang ini.

Lalu pertanyaan penting yang terus diajukan sampai sekarang, mengapa kemiskinan masih merajalela??? Bahkan merambah dan bertambah!!! Apakah ini akibat dari adanya pembangunan yang dilakukan?

Mari kita jawab bersama… (Peace… hehe)

Mari membangun bangsa, untuk hari esok yang lebih baik,

Amin!!!!

Sumber gambar [1]

Pembangunan Masyarakat



Dunia terdiri dari sistem yang memiliki keterikatan dan terintegrasi satu sama lain antara subsistem yang satu dengan subsistem lainnya. Hubungan ini memiliki keselarasan yang harus dijaga keseimbangannya. Tidak seimbangnya salah satu subsistem akan menimbulkan ketimpangan terhadap system itu sendiri, sehingga mekanisme kehidupan didunia menjadi goyah dan dapat jatuh. Begitu pula ekonomi. Ekonomi merupakan salah satu subsistem yang ada dalam kehidupan manusia. Ekonomi juga memiliki system yang memiliki muatan-muatan subsistem-subsistem pendukung lainnya. Terintegrasinya subsistem yang ada dalam system ekonomi menjadikan ekonomi berjalan dengan maksimal. “Equilibrium” merupakan kata-kata inti yang dikejar setiap insan ekonomi. Ada banyak system ekonomi didunia dengan dasar dan tindakan yang berbeda dalam mengambil sebuah keputusan ekonomi yang bermuara kepada adanya atau tercapainya “welfare”. Semua tindakan ekonomi berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para pelaku-pelakunya. Negara sebagai insane ekonomi yang memiliki legitimasi untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang kuat dan handal sehingga setiap pelaku-pelaku ekonomi yang berada dibawah payung Negara dapat terlindung dari cuaca yang mungkin sekalipun buruk sehingga kesejahteraan dapat terwujud dan dijaga keberlangsungannya.

Sampai pada saat sekarang ini, kesejahteraan merupakan jargon-jargon politik yang selalu dijadikan peluru untuk menembak masyarakat. Masyarakat hanya terus terbuai dengan ucapan-ucapan KESEJAHTERAAN AKAN MENINGKAT, KEMISKINAN AKAN DIBABAT HABIS, LAPANGAN PEKERJAAN AKAN DIBUKA, HARGA-HARGA KEBUTUHAN POKOK AKAN MURAH, tetapi kata-kata ini belum benar-benar terwujud dan terrealisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat berusaha tergopoh-gopoh untuk mencari kehidupan yang tidak pasti. Muatan data-data politis terus menerus terjadi. Seringnya diantara instansi-instansi atau organisasi-organisasi memiliki perbedaan indicator dalam mengukur suatu permasalahan, salah satunya yaitu menghitung jumlah masyarakat miskin.

Lalu apa yang dapat diperbuat?

Pada saat sekarang ini, system yang dilakukan oleh pemerintah menitikberatkan kepada pembangunan yang pro kepada pertumbuhan. Pembangunan yang pro kepada pertumbuhan akan menimbulkan banyak masalah yang tidak terselesaikan serta dapat menimbulkan masalah-masalah social yang baru. Model pembangunan yang pro kepada pertumbuhan hanya menjadikan orang kaya menjadi lebih kaya dan orang miskin menjadi lebih miskin.

Kenapa?

Karena system regulasi mendasarkan kepada pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat, maka asumsinya kesejahteraan akan meningkat.

Apakah hal itu mempunyai korelasi positif dengan masyarakat Indonesia yang terbilang banyak bergerak dalam bidang pertanian?

Dapat kita ketahui bahwasanya konsep dan model pembangunan yang pro kepada pertumbuhan berrorientasi kepada sector – sector industry. Sungguh sangat berbeda dengan aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya. Sehingga asumsi pemerintah tidak dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang terbilang sangat banyak. Di satu sisi model pembangunan yang pro kepada pertumbuhan akan menyunggingkan senyum manis kepada para petinggi dan pemimpin bangsa karena semakin tinggi tingkat pertumbuhan, maka akan berkorelasi kepada meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat.

Salah satu yang terus dilakukan oleh pemerintah sampai pada saat sekarang ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu dengan meningkatkan konsumsi masyarakat dengan menggelontorkan program BLT-nya dan meningkatkan belanja pemerintah hingga sampai pada saat sekarang ini telah mencapai 1000 T lebih.

Apakah hal itu relevan dengan keadaaan riil masyarakat indoensia? Apakah dengan cara seperti itu maka kesejahteraan yang sebenarnya telah terjadi?

Tidak! Hal itu hanya berefek kepada meningkatkan pertumbuhan tapi tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Untuk menyelesaikan masalah yang terbilang rumit ini diperlukan mencari akar atau benang merah yang tersembuyi dalam permasalahan tersebut.

Sebenarnya akar dari permasalahan ini ada pada masyarakat indonesia yang paling bawah. Sehingga untuk menyelesaikannya juga harus melibatkan masyarakat secara penuh.

Kebijakan-kebijakan pembangunan harusnya memungkinkan masyarakat untuk bisa hidup dalam keharmonisan dengan lingkungan yang sejak dahulu telah menyatu bersama masyarakat dan menjamin keharmonisan dengan nilai-nilai ekologi masyarakat. Sehingga masyarakat bukan menjadi objek dari adanya pembangunan akan tetapi menjadi subjek yang tetap menjaga nilai-nilai dan struktur social serta tradisi kebudayaan yang telah berakar pada mereka.

Jadi, pembangunan tidak dalam posisi menekan kelompok-kelompok masyarakat bawah, baik seperti petani maupun masyarakat kecil lainnya akan tetapi dalam posisi untuk mengangkat nilai-nilai yang telah ada dan mampu melibatkan kelompok-kelompok masyarakat secara aktif dalam pembangunan.

Selain itu peran pemerintah berfungsi sebagai payung dalam melindungi segala aktifitas ekonomi masyarakat dari hal-hal yang dapat menghancurkan tatanan dan nilai-nilai masyarakat. Selain itu juga peran pemerintah yang lain dapat diperkuat dengan hadirnya koperasi sebagai jantung untuk memompa darah agar mengalir keseluruh tubuh perekonomian Indonesia, sehingga terjadi suatu jalinan keharmonisan ekonomi diantara masyarakat dan negara.

Selain itu peran pemerintah berfungsi sebagai payung dalam melindungi segala aktifitas ekonomi masyarakat dari hal-hal yang dapat menghancurkan tatanan dan nilai-nilai masyarakat. Selain itu juga peran pemerintah yang lain dapat diperkuat dengan hadirnya koperasi sebagai jantung untuk memompa darah agar mengalir keseluruh tubuh perekonomian Indonesia, sehingga terjadi suatu jalinan keharmonisan ekonomi diantara masyarakat dan negara.

Sumber gambar [1]

Pembangunan Berbasiskan Masyarakat


Ekonomi merupakan kajian ilmu yang begitu luas dan memiliki keterkaitan antar bidang kajian ilmu pengetahuan sosial yang ada. Kemiskinan dan pengangguran merupakan salah satu kajian yang tidak pernah putus-putusnya dibahas dan dikaji oleh akademisi di perguruan tinggi serta ekonom-ekonom dunia. Diantara dua bidang permasalahan yang dikaji tersebut dapat ditarik kebelakang dengan mengajukan sebuah pertanyaan, mengapa ada kemiskinan?

Kemiskinan adalah penyakit social yang harus segera ditangani!

Telah banyak teori dan kebijakan yang dibuat dan dikeluarkan, akan tetapi sampai pada saat sekarang ini KEMISKINAN belum dapat diatasi! Hal ini menjadi masalah semua Negara termasuk Indonesia. Indonesia merupakan Negara luas dan terdiri banyak pulau yang memiliki karakteristik masyarakat yang berbeda. Akan tetapi system social dan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat Indonesia relative seragam disetiap daerah, yaitu pertanian dan semangat gotongroyong.

Pertanian merupakan urat nadi kehiduapan masyarakat Indonesia dari dulu sampai pada saat sekarang ini. Akan tetapi hal ini semakin dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Hadirnya teknologi menyebabkan system social masyarakat mulai luntur secara perlahan-lahan dan menggeser semangat gotongroyong. Hal ini melahiran Sifat individualisme yang semakin berkembang dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Pertanyaan kemudian muncul dengan cara apa kita dapat mengembalikan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan kita terdahulu tanpa meninggalkan zaman yang sangat canggih dan penuh kompettitif sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, terutama petani-petani Indonesia?

Menerapkan pembangunan yang berpusat kepada rakyat.

“Pembangunan adalah proses di mana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusi (istiah institusi disini mengacu kepada system struktur, adat dan nilai-nilai yang tahan lama yang membentuk perilaku dan hubungan orang-orang di dalam suatu masyarakat) mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan aspirasi mereka sendiri”

Salah satu kunci dalam kebijakan ini yaitu pemerintah memberikan kebebasan bagi masyarakat dan mendukung segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat untuk melakukan aktifitas ekonomi di wilayah mereka masingt-masing. Jadi disini peran pemerintah menjaga keberlangsungan aktifitas ekonomi masyarakat dengan cara memperkokoh pondasi ekonomi melalui membentuk koperasi-koperasi yang tangguh.

Yang harus menjadi prioritas utama dalam penggunaan sumberdaya bumi adalah memberi kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan mata pencaharian pokok untuk mereka sendiri dan keluarganya dan tiap individu berhak menjadi anggota yang produktif dan berguna bagi keluarga , kelompok dan masyarakatnya serta penguasaan atas asset-aset yang produktif harus dibagi secara luas dalam masyarakat. Mengusahakan diversifikasi ekonomi pada semua peringkat ekonomi dimulai dari rumahtangga di pedesaan untuk mengurangi ketergantungan dan kerawanan terhadap goncangan pasar sebagai akibat spesialisasi yang berlebihan. Dan yang terakhir yaitu dalam mengalokasikan sumberdaya local untuk memberikan prioritas kepada produksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk local. Tujuannya adalah untuk menciptakan ekonomi nasional yang terdiri dari unit-unit ekonomi local yang swasembada dan saling terkait satu sama lain. Dan unit-unit ini mempunyai derajat ketahanan untuk menghadapi goncangan system nasional dan internasional dan ikut mempunyai andil dalam melestarikan sumberdaya lingkungan hidup local mereka.

sumber gambar [1]

Kebijakan Pariwisata Berwawasan Pertanian Menuju Pembangunan Ekonomi



Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu Negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu Negara.

Pembangunan ekonomi tidak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi. Dan pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian. (sumber : wikipidia.org)

***

Bangsa yang bijaksana adalah bangsa yang dapat menyelesaikan masalah yang sedang dan akan dialaminya. Salah satunya yaitu pengangguran. Pengangguran merupakan suatu masalah yang dihadapi seluruh bangsa di dunia. Baik bangsa yang besar atau kaya maupun bangsa yang kecil dan miskin, termasuk Indonesia. Menurut badan pusat statistik Indonesia (BPS) jumlah angka pengangguran Indonesia 7,87 persen dari total seluruh penduduk indonesia yang saat ini berjumlah 237 juta jiwa (2010). Data ini menunjukkan bahwa masih banyaknya penduduk Indonesia belum memperoleh pekerjaan. Selain itu, masih banyaknya para pekerja (buruh) yang bekerja tidak mendapat hasil yang sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukannya.

Pembukaan UUD 1945 mengatakan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan…”

Dalam kenyataannya amanat UUD Negara tidak berdampak sama sekali sebagai dasar untuk melakukan sesuatu, sehingga baik pengangguran, masalah eksploitasi dan penjajahan tenaga kerja sering diabaikan oleh pemerintah dengan membuat regulasi yang sama sekali tidak berpihak terhadap pekerja. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh pemerintah yang sangat tidak mendukung hak-hak para pekerja yaitu dengan jalan dihapusnya UU No 12 Tahun 1964 yang berisi “larangan kepada perusahaan-perusahaan untuk memecat pekerja kecuali dikarenakan perbuatan kriminal” dan menggantinya dengan UU yang sangat menekan pihak pekerja. Dengan lahirnya UU pengganti UU No 12 Tahun 1964 membuat posisi perusahaan terlebih perusahaan-perusahaan swasta asing yang menanamkan modalnya di Indonesia sangat berkuasa. Sehingga jika ada para pekerja yang tidak setuju dengan system kebijakan upah yang menekan pekerja dapat langsung diberhentikan tanpa melalui proses. Hal ini semakin membuat para pekerja tidak dapat berbuat suatu perlawanan dari system upah yang diberlakukan oleh perusahaan. Selain itu, system kontrak yang diterapkan juga dirasakan sangat memberatkan bagi para buruh.

UUD 1945 pasal 33 ayat 3 juga mengamanatkan pemerintah untuk mempergunakan sumber daya yang dimiliki oleh bangsa ini digunakan untuk memakmurkan rakyat sebesar-besarnya. Hal ini sangat melenceng, dibuktikan dengan masih banyaknya penduduk yang miskin dan kasus busung lapar yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia.

Untuk itu perlu ada suatu kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang berkepanjangan ini.

Salah satu sektor yang menjadi andalan dalam menopang perekonomian Indonesia yaitu pertanian. Sektor ini merupakan sektor strategis dan sangat menjanjikan dibandingkan dengan sektor yang lain. Di lihat dari struktur tenaga kerja yang digunakan, sektor pertanian merupakan sector yang bersifat padat karya. Sangat startegis dengan struktur penduduk Indonesia yang sangat banyak. Selain itu, sektor pertanian merupakan sektor yang bergerak dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Salah satu ekonom dunia dengan teorinya pernah mengatakan bahwa “populasi manusia akan bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan…”Hal ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk dikembangkan dengan ilmu pengetahuan dalam bidang pertanian, sehingga di masa mendatang Indonesia menjadi Negara dengan produksi pangan dengan sumber-sumber pertanian dunia yang berkualitas atau dengan kata lain Indonesia barns world.

Selain sektor pertanian, Indonesia juga memiliki sektor yang dapat menjadi andalan untuk membangun roda perekonomian yang lebih tangguh yaitu sektor pariwisata. Pariwisata merupakan bisnis yang terus berkembang dan memiliki masa depan yang baik di Indonesia. Dua faktor pendorong kemajuan pariwisata Indonesia, ditandai dengan meningkatnya kebutuhan akan jasa transportasi, akomodasi, restoran, dan usaha yang terkait seperti biro perjalanan, penukaran valuta asing, informasi pariwisata, objek dan daya tarik wisata, dan lain-lain.

Salah satu teori ekonomi mengatakan bahwa perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi…” yang dikemukakan oleh David Ricardo dengan Teori keunggulan komparatif-nya (theory of comparative advantage)

Pengintegrasian antar sektor pariwisata dan pertanian akan dapat menimbulkan effect multiplier bagi masyarakat melalui dibentuknya undang-undang yang menetapkan sektor pariwisata terintegrasi ke dalam konsep pertanian yang menjadi prioritas utama Indonesia. Pariwisata berwawasan pertanian merupakan pariwisata yang tidak hanya memberikan keindahan alam dan budaya seperti halnya saat sekarang ini, tetapi juga memasukkan unsur wisata kuliner dan wisata produk-produk pertanian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Tentunya hal ini akan sangat membutuhkan peran pemerintah sebagai stakeholder, institusi pendidikan, dan masyarakat sendiri sebagai komponen bangsa yang memiliki visi yang sejalan dengan kerangka kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sehingga penduduk miskin di Indonesia yang saat ini berjumlah 32.530.000 jiwa (Sumber : BPS 2009) dapat berkurang sekecil mungkin. Amin!!!

Sumber gambar [1]

Petani dan Bulir-bulir Padinya



Akhir-akhir ini isu pengadaan impor beras akan kembali dibuka oleh pemerintah. Hal ini diakibatkan karena minimnya stok/cadangan beras di bulog karena disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim, serangan hama dan mulai berkurangnya lahan pertanian yang telah dikonversikan menjadi lahan perkebunan sawit.

Kekurangan ini rencananya akan ditutupi dengan mengimpor. Wacana kebijakan impor beras ini ditentang oleh petani beras yang diwakili oleh Henry. Menurut Henry, kebijakan ini akan menghamburkan devisa yang dimiliki negara, serta dapat menekan produksi beras lokal yang ada di dalam negri dan akan dapat melemahkan kemampuan Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan yang diproduksi dalam negri. Henry menganggap rencana terhadap impor beras ini menunjukkan pemerintah telah gagal menyiapkan ketersediaan pangan nasional.

Hal ini dapat dilihat dari reaksi dan aksi yang dilakukan oleh pemerintah dan petani. Hasil pangan/beras nasional merosot diakibatkan oleh perubahan cuaca yang ekstrim. Beberapa tahun terakhir, pertemuan-pertemuan internasional telah banyak dilakukan untuk membahas fenomena perubahan iklim. Pertemuan-pertemuan ini menghasilkan kesepakatan, yaitu negara-negara di seluruh dunia bersepakat untuk mengurangi kandungan gas emisi karbon di negaranya masing-masing. Perubahan iklim yang begitu drastis ini bermula dari ditemukannya mesin uap dan berkembangnya peradaban umat manusia yang tidak dibekali dengan penyelamatan dan perlindungan ekosistem dunia, sejak dimulainya industri pertama kali dua abad yang silam. Selain itu, perubahan iklim di dunia juga disebabkan bertambahnya jumlah umat manusia (juga berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran) menghuni bumi yang luasnya tidak pernah bertambah sedikit pun, sehingga dibutuhkan lahan yang begitu luas untuk menunjang kehidupan umat manusia dan dimulai lah praktek-praktek penggundulan hutan yang sangat besar terjadi dimana-mana, baik untuk tujuan pembangunan maupun untuk kepentingan komersil (pribadi) tanpa penghijauan kembali. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, baik berkolusi dengan aparatur pemerintah maupun dengan cara-cara yang illegal. Sehingga tidak sedikit dari praktek-praktek penebangan liar ini yang telah tertangkap. Kasus-kasus seperti ini dapat kita lihat seperti yang terjadi di Riau, Kalimantan dan berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia. Contoh lain dapat kita lihat di Ibu kota Indonesia, Jakarta, dimana lahan –lahan hijau telah banyak diubah menjadi gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah, pada hal kebijakan seperti ini akan sangat merusak tata kota yang seharusnya sebagai lahan hijau penyangga paru-paru kota tetapi telah disulap menjadi bangunan-bangunan pemuas nafsu hedonisme manusia. Dan ini terjadi di kota-kota besar yang ada di seluruh Indonesia.

Penurunan produktivitas pertanian disebabkan banyaknya hama yang merusak tanaman padi. Perubahan iklim yang begitu cepat sangat memungkinkan bagi hama-hama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi sehingga metoda-metoda penghalauan dan pembasmian hama yang digunakan selama ini tidak lagi cocok untuk mengatasinya. Banyak dari petani kita yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia masih menggunakan cara-cara lama untuk menghalau hama (seperti pembuatan orang-orangan sawah untuk menghalau burung yang akan memakan padi atau menjaring burung dengan menggunakan jaring ikan dan membakar rumpu kering untuk mengeluarkan tikus dari lubang dan kemudian membunuhnya) serta penggunaan racun pembasmi hama yang telah resisten terhadap hama. Sehingga produktivitas hasil panen tidak dapat meningkat. Cara-cara ini masih diyakini para petani sebagai cara atau solusi yang tepat untuk menghalau dan membasmi hama.

Penurunan produktivitas panen juga disebabkan oleh semakin kecilnya luas areal lahan pertanian yang telah di alih fungsikan menjadi tanaman perkebunan, seperti sawit. Komoditi ini sangat di sukai oleh petani karena proses produksi, panen dan akses ke pasar yang relative sangat mudah dan cepat, tidak seperti produk pertanian. Akibatnya banyak dari lahan pertanian yang telah berubah bentuk menjadi hutan kecil (sawit) yang tertata apik. Jika diperbandingkan antara tanaman padi dan sawit untuk satu (ha) lahan, tanaman padi dapat memproduksi rata-rata per sekali panen (selama 4 bulan) menghasilkan pendapatan kotor sebanyak tujuh juta lima ratus rupiah dan untuk tanaman sawit menghasilkan (dalam jangka waktu yang sama) sebanyak delapan juta rupiah. Dari segi hasil panen (kotor), selisih yang didapat sebanyak lima ratus ribu rupiah. Untuk hama, padi lebih rentan untuk terkena hama bila dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit. Hama yang paling mengganggu kelapa sawit yaitu binatang babi, namun setelah tanaman kelapa sawit bertumbuh dewasa, hama babi tidak menjadi hama yang paling mengganggu lagi karena tanaman kelapa sawit telah tumbuh lebih tinggi dibandingkan hama babi. Lain halnya dengan padi, hama yang mengganggunya lebih banyak dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit, seperti hama wereng, burung, tikus, dan penyakit tanaman padi yang lain. Proses panen sampai kepada penjualan, padi membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Sedangkan tanaman kelapa sawit, jika telah di panen maka petani dapat langsung menjualnya kepada toke (pembeli sawit dari petani untuk dijual kembali kepada PKS). Atas dasar keunggulan-keunggulan ini banyak dari petani yang beralih dan menanam lahan pertanian mereka menjadi tanaman sawit, sehingga jumlah produksi padi dan beras menjadi turun.

Masalah-masalah ini tentunya tidak dapat hanya dilakukan dengan hanya mengeluarkan kebijakan impor beras. Sesaat, masalah kekurangan ini dapat terselesaikan dengan segera, namun masalah yang sebenarnya sedang menghadang di depan mata. Jadi menuntut langkah dan antisipasi yang tepat, agar kekurangan pangan dapat teratasi dengan bijaksana.

Satu hal yang pasti dalam teori ekonomi dikatakan bahwa, jika kelebihan permintaan (excess demand) dari kurangnya supply suatu barang akan mengakibatkan harga barang tersebut naik. Tentu kebijakan impor beras ini akan mengakibatkan harga beras di dalam negri berfluktuasi dan mengikuti harga komoditi beras yang telah di impor. Disatu sisi hal ini baik jika dilakukan dalam jangka pendek dan sifatnya mendesak, tetapi jika kebijakan ini berlangsung sangat lama dan bersifat terus menerus, maka akan dapat mematikan produksi beras nasional.

Pemerintah seharusnya melakukan pendataan yang menyeluruh, baik dalam aspek lahan, ketersediaan pupuk, bibit, serta penggunaan teknologi yang dilakukan para petani. Setelah itu pemerintah menjamin ketersediaan pasar (baik di dalam maupun di luar negri) dengan mekanisme pembentukan harga yang tepat antara petani dan konsumen.

Kebijakan impor beras memberi kesan bahwa pemerintah lepas tangan dan tidak mau tahu dengan kekurangan pangan nasional (jika pangan kurang, lakukan impor, masalah pun selesai!) Dengan menggunakan dalih yang sangat manis, pemerintah dapat saja menggunakan teori Perdagangan internasional kebanggaan Adam Smith (Teori keunggulan absolute) untuk meninabobokkan masyakarat yang senang dibuai dengan kata-kata manis, bahwa impor merupakan suatu hal yang sangat tepat dan bijaksana untuk dilakukan! Tanpa mau tahu apa penyebab dibalik kurangnya pangan nasional serta menyelesaikannya!

Jika dilihat dari sisi produksi, para petani banyak yang kesulitan mendapatkan pupuk dan jika ada, harganya sangat tinggi. Hal ini terlihat kurangnya pengawasan dari pemerintah yang berakibat bertambah susahnya hidup para petani. Hal ini dapat diatasi melalui pendataan luas lahan dan kebutuhan pupuk setiap daerah. Selain itu, bibit padi yang banyak digunakan para petani adalah bibit turun temurun, sehingga hasil yang didapat, semakin lama semakin kecil. Serta masih banyak para petani yang mengandalkan hujan untuk mengairi sawah-sawah mereka, seperti yang dilakukan beberapa tahun yang lampau. Kembali terlihat bahwa pemerintah terkesan tidak peduli untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Untuk itu perlu kembali mendata dan membuat system irigasi yang mendukung sehingga petani tidak lagi mengharapkan hujan untuk membasahi sawah mereka dengan cuaca yang tidak lagi menentu. Pembinaan para petani pun dirasa sangat kurang. Ini dibuktikan dengan sangat kurangnya tenaga penyuluh pertanian. Sehingga banyak dari para petani hanya mengandalkan ilmu pertanian yang telah diterimanya dari orang tua mereka. Hal ini dapat terlihat masih adanya para petani menggarap sawah mereka dengan menggunakan kerbau. Hal ini Kontras sekali dengan keadaan saat sekarang ini dimana teknologi telah berkembang dengan sangat majunya. Dan lagi terlihat dalam hal ini bahwa pemerintah sepertinya masih lepas tangan dengan urusan yang sangat penting (seperti kebutuhan primer : nasi : kebutuhan pokok masyarakat Indonesia)

Jika dilihat dari sisi akses ke pasar, banyak dari para petani yang tidak mengetahui harga gabah yang sebenarnya, sehingga hal ini dimanfaatkan dan menjadi kesempatan bagi para tengkulak untuk meraup keuntungan lebih dari para petani. Sehingga terlihat kembali kurangnya pengawasan dari pemerintah dan membuat para petani menjadi rugi.

Sumber gambar [1]

Perjalanan Kehidupan



PERJALANAN KEHIDUPAN
Kemana anda dan saya setelah usai dari hidup ini…???
Mungkin akan terlintas di benak setiap anda dan saya yang berfikir apa tujuan akhir hidup ini…?
Kemana anda dan saya setelah ini…?
Apa yang akan terjadi dengan hidup ini…?
Setelah semuanya usai, hidup berakhir, apa yang akan anda dan saya lakukan setelah itu…?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin saja terlintas di benak pikiran kita.
Para ahli yang memperoleh nobel terbaik yang ada di seluruh belahan dunia mana pun tidak akan sanggup untuk memecahkan rahasia kehidupan ini dengan rumus-rumus yang telah di temukan dan dengan teknologi-teknologi mutakhir yang telah di ciptakan.
Seorang musisi terbaik Indonesia Chrisye (Alm) menciptakan syair-syair yang mengatakan”apa yang akan anda dan saya lakukan jika ternyata surga dan neraka itu sebenarnya tidak ada…?”
Ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab semua ini. Namun, agama dapat menjawab semua pertanyaan yang tiada dapat di pecahkan dan di selesaikan ilmu pengetahuan.
Namun kembali timbul pertanyaan”apakah anda dan saya meyakini jawaban yang di berikan agama terhadap rahasia kehidupan itu…?”
Jika anda dan saya meyakini akan hal itu apakah konsekuensinya…?
Jika anda dan saya tidak meyakini akan hal itu apakah konsekuensinya…?
Banyak hal yang membuat anda dan saya bingung akan hal itu.
Jika banyak yang meyakini akan hal itu, mengapakah terjadi pemerkosaan terhadap bocah di bawah umur, terhadap nenek-nenek yang telah lanjut usia, terhadap orangtua, perampokan, KKN, kebohongan dimana-mana, baik dari usia kecil sampai kepada usia yang telah lanjut, yang sebenarnya mengajarkan yang benar terhadap generasi-generasi muda…?
Mengapa semua ini mesti terjadi jika meyakini akan hal itu…?
Pernahkah anda meyakini akan hal itu…?
Jika anda meyakini, akankah anda bisa menjadi cermin atas hal itu…?
Apakah semua pura-pura tidak mengetahui akan hal itu? Sehingga terus berlarut-larut dalam keadaan itu…? Akankah tiada ketidakbahagiaan jika tidak melakukan akan hal itu…? Akankah tidak ada suatu keyakinan akan kebahagiaan yang akan di berikan kepada anda dan saya jika itu tidak terjadi di dalam diri anda dan saya.
Apakah anda menantikan kebahagiaan atau kebahagiaan yang akan menantikan anda…?
Sumber gambar [1]

Menteri Telat?? Apa Kata Dunia??


Menunggu merupakan sesuatu hal yang menjemukan bagi sebagian orang. Duduk diam, memandang dan berpikir yang berlalulalang tanpa tahu apa yang ingin dilakukan. Ada yang menyiasatinya dengan menelfon, ber-sms, bermain game atau pun menulis. Tentu hal ini tidak akan berlangsung lama. Orang yang menunggu cenderung gelisah dan mulai berfikir negatif dari orang yang ditunggu olehnya. Kurangnya rasa ketidakpercayaan dari yang menunggu akan semakin tinggi terhadap orang yang ditunggu olehnya. Kebiasaan tidak disiplin/molor/jam karet/tidak on time ini semakin menggerogoti orang yang kesehariannya tidak disiplin. Dan hal ini menjalar dari lapisan bawah sampai ke lapisan atas. Tidak memandang jabatan, usia maupun kedudukan. Dan hal ini pun dilakukan oleh seorang menteri kita. Pada saat itu Menteri ekonomi, Perdagangan dan Industri jepang, Masayuki Naoshima merasa kecewa karena gagal bertemu dengan menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Ia diagendakan akan bertemu dengan darwin pada pukul 14.30 wib. Setelah 30 menit menunggu Darwin tidak juga muncul. Akhirnya Naoshima dan rombongan pergi dengan wajah kesal. “Ini sangat memalukan karena tidak melayani seorang tamu negara tepat waktu” kata salah satu anggota rombongan dari delegasi Jepang. Tentu hal ini membuat citra negatif terhadap negara kita Indonesia. Jika ditinjau dari segi ekonomi tentu menunggu merupakan biaya bagi orang yang menunggu. Seperti sering dikatakan “Waktu adalah Uang”
Kebiasaan tidak disiplin waktu ini semakin hari akan semakin berwujud menjadi sebuah KEBUDAYAAN TIDAK TEPAT WAKTU!!! Dan jika hal seperti ini tidak kita antisipasi mulai dari sekarang maka hal seperti ini akan menjadi budaya yang semakin lama semakin mengakar kuat didalam masyarakat.
Sumber berita [1]
Sumber gambar

Perjalanan Rohmah

Pagi itu seperti biasa Rohmah telah selesai dengan kegiatan rutinnya sebagai seorang ibu. Diliriknya jam yang melekat di dinding telah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Ia kemudian bergegas ke kamar yang tidak jauh dari dapur tempat ia biasa melakukan kegiatannya sebagai seorang wanita seperti yang telah diajarkan mendiang ibunya kepada Rohmah semasa kecil dahulu.

“Memasak adalah kewajiban wanita anakku!” Ucapan yang tidak pernah dilupakannya sampai pada saat ia menikah.

Rohmah masuk ke dalam bilik kamar. Ia tersenyum melihat kedua putra kembarnya yang masih terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka. Seakan-akan mereka tidak ingin terbangun dan bergerak meninggalkan mimpi untuk mencapai dan membawanya dalam dunia penuh warna.

Setelah selesai berbenah diri, Rohmah keluar dan mendapati Joko telah selesai dengan pekerjaan mengambil air dari sumur kecil yang ada di belakang rumah mereka.

“Joko.” Sahut Rohmah kepada putranya.

Rohmah bahagia melihat bayi mungilnya yang kini telah tumbuh menjadi remaja yang akan menghadapi kehidupan yang terbentang luas dihadapannya dengan sejuta masalah yang akan dilewatinya.

“Persis seperti mendiang ayahnya.” Gumam Rohmah pelan.

Tidak terasa waktu yang begitu cepat merampas setiap detik warna-warni kehidupan anaknya itu, hingga kini menjadi lembaran demi lembaran warna paradoks yang menghiasi setiap relung kehidupan anaknya, Joko, hingga sekarang berumur 13 tahun.

Joko mendengar suara itu, kemudian menghampiri ibunya yang terlihat telah siap akan berangkat ke sawah untuk menyiangi padi yang telah diupahkan kepada ibunya beberapa hari yang lalu.

“Ada apa Ibu?” Tanya Joko pelan.

“Seperti yang telah Ibu katakan semalam kepadamu bahwa Ibu akan berangkat lebih pagi hari ini untuk menyiangi padi Pak Ahmad, kawan Ayahmu dulu. Jadi tolong Joko urus adik-adik berangkat sekolah dan jangan lupa, sepulang sekolah, Joko jemput adik-adik kembali.” Ucap Rohmah kepada putra sulungnya itu.

“Baik Bu,” kemudian Joko seperti berfikir.

“Tapi hari ini Joko ada ujian dan Joko takut ibu guru tidak akan mengizinkan Joko untuk menjemput adik.”

“Bukankah kamu telah sering menjemput adik-adikmu, Joko? Apakah Ibu gurumu tidak mengerti?”

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena Joko tahu bahwa yang telah dilakukannya setiap menjemput adik-adik sepulang sekolah adalah salah.

Sejurus kemudian Rohmah seperti berfikir, mengapa anaknya itu seperti menyembunyikan sesuatu kepada dirinya. Pikiran-pikiran negatife mulai merasuki pikiran Rohmah.

“Ada apa Joko? Ibu merasa kamu seperti menyembunyikan sesuatu kepada Ibu?” Tanya Rohmah kepada Joko yang sedang berdiri dihadapannya dengan penasaran.

“Joko selama ini tidak pernah izin ibu! Setiap kali Joko menjemput adik, Joko selalu membolos! Joko yakin, kalau Joko minta izin, pasti Joko tidak diperbolehkan. Joko tidak mengerti harus bagaimana lagi, Ibu! Joko juga takut minta izin! Jika joko tidak menjemput adik, Joko takut kalau Ibu yang akan memarahi Joko. Joko tidak ingin itu! Joko tidak ingin Ibu marah kepada Joko. Joko tidak menginginkan itu, Ibu!” Joko menangis mengatakan kebenaran itu.

“Apa..!!!” Rohmah kaget mendengar ucapan anaknya itu. Ia benar-benar tidak menyangka akan seperti itu Joko untuk menjemput kedua adiknya. Ia tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.

Joko mengerti bahwa ibunya tidak menyukai apa yang telah dilakukannya. Joko menundukkan kepalanya, pertanda dia takut kepada ibunya yang akan semakin marah kepadanya.

Rohmah menghela nafas panjang atas sesuatu yang baru didengarnya itu. Ia benar-benar terkejut. Rohmah bingung, ingin rasanya ia marah besar terhadap anaknya itu. Rohmah tidak ingin anak-anaknya berbuat sesuatu yang benar-benar tidak disukainya. Terlebih-lebih hal seperti ini. Ia tidak ingin anaknya semakin bertambah buruk kelakuannya dengan ia memarahi Joko, anaknya itu. Rohmah mengerti akan hal itu.

“Joko, lain kali, jika Joko akan menjemput adik-adik, Joko harus minta izin kepada guru! Karena walaupun Joko melaksanakan yang telah Ibu katakan tetapi Joko tidak mentaati peraturan yang ada di sekolah, berarti Joko berbuat salah. Dan perbuatan itu tidak baik anakku!” Ucap Rohmah pelan dan berwibawa, sambil ia mengusap air mata yang telah membasahi wajah putra sulungnya itu dengan kedua belah tangannya.

Amat lembut belaian dan sentuhan tangan ibunya itu. Sayang benar Rohmah kepada anak-anaknya. Tiada ingin ia melihat anaknya sedih dan pula menderita. Rohmah benar-benar memperjuangkan kehidupan ketiga anak-anak yang telah dititipkan Gusti Allah kepadanya. Apapun dapat ia kerjakan agar putra-putranya dapat bersekolah. Tiada seperti dia, yang tidak pernah bersekolah dahulu. Rohmah hanya ingin anaknya kelak sukses. Tiada seperti dia sekarang. Dengan begitu ia akan bahagia. Hanya anak, harta yang dia punya. Ia tidak ingin anak yang dia punya kelak menjadi anak yang sia-sia. Maka itu ia keras untuk menyekolahkan anaknya. Meskipun rela ia bekerja siang malam untuk anak-anaknya yang sangat dicintainya.

“Baiklah kalau begitu, nanti Ibu mampir sebentar ke rumah Haji Parta untuk meminta tolong kepada Raka akan menjemput adik-adikmu setelah mereka pulang sekolah nanti.”

“Baik Ibu.” Jawab Joko pelan.

Kemudian Joko langsung ke kamar dan meninggalkan ibunya yang berjalan ke arah dapur rumah mereka.

Rohmah melangkah ke dapur untuk mengambil sepeda yang bersandar di dinding. Sepeninggal suaminya, Jaka, Rohmah yang selalu menggunakan sepeda warisan suaminya itu. Sepeda itu yang setia mengantarkannya kemanapun ia hendak pergi bahkan mengantarkan kedua putra kembarnya ke sekolah.

Sepeda yang kini telah berada disampingnya itu, mengingatkan ia kepada kenangan-kenangan manis yang kini menjadi lembaraan demi lembaran lama yang mulai usang dimakan waktu. Air yang membendungi lapisan bola matanya yang bulat, meleleh keluar bagaikan lava panas yang mengucur pelan dan membasahi setiap relung wajah yang terlihat mulai mengendor. Memperlihatkan betapa keras tanggung jawab yang dipikulnya sekarang.

Rohmah masih begitu jelas mengingat setiap detil kisah pertengkaran antara suaminya Jaka dengan saudara laki-laki suaminya Karlop, karena harta warisan yang ditinggalkan mendiang mertuanya, Pak Kresno, 10 tahun yang silam. Rohmah sangat mengutuki kejadian itu!

Ia letakkan peralatan menyiangnya digagang sepeda kemudian pergi meninggalkan rumahnya.

***

Rohmah merebahkan sepedanya di pekarangan rumah Haji Parta, yang kebetulan Raka, putra Haji Parta, sedang merapikan pekarangan rumah mereka. Ia terangkan maksud dan kedatangannya kepada Raka lalu setelah itu pergi dan meninggalkan Raka.

Diperjalanan, Rohmah seperti mendengar sesuatu yang memanggil-manggil namanya berulang-ulang kali.

“Rohmah!Rohmah!”

Ia hentikan sepedanya untuk melihat siapakah yang telah memanggil namanya itu. Tiba-tiba dari arah belakang datang seorang wanita mendekatinya sambil tergopoh-gopoh menghirup nafas seperti seorang penyakit asma yang sedang kambuh.

“Nak kemanakah engkau sepagi ini udah berangkat, Rohmah?” Ucap wanita itu kepadanya,

“Tak kau lihat baju apa yang aku pakai ni? Aku nak menyiang padi Pak Ahmad yang udah diupahkan ke aku petang kemaren. Ada apa pula engkau memanggil-manggil aku?” Tanya Rohmah dengan penasaran.

“Tak tahukah engkau, hari ini ada seorang yang baik hati lagi kaya raya mau bersedakah di kampong kita?” Kata wanita itu berapi-api dan penuh semangat.

“Tak tahu aku soal itu. Untuk apa orang itu bersedakah kepada kita?”

“Rohmah, Rohmah, apa pula yang kau tanyakan itu, tak penting kau tanya seperti itu. Udah syukur orang itu mau bersedakah untuk kita yang miskin ini! Tak bersyukur kau rupanya ada orang yang mau bersedakah di kampung kita ini! Kampung miskin ini?! Kau Tanya pula aku dengan hal seperti itu. Buat aku jengkel kau ini! Tapi aku dengar orang itu bersedakah untuk berbagi kebahagiaan dibulan yang suci ini. Itu yang aku dengar dari Ibu-Ibu kemaren di masjid sehabis pulang taraweh. Khan seminggu lagi kita ndak lebaran!” Kata wanita itu kepada Rohmah dengan nada jengkel.

“ Maaf lah, tak ada maksud aku nak buat kau jengkel. Cuma heran aku ini. Baru ini ada orang yang ndak bersedakah di kampung kita ini. Jam berapa itu?”

“Sekarang!”

“Apa?! Ndak salah kau itu? Pagi benar orang itu ndak bersedakah. Aku ndak ke sawah sekarang. Tak bisa aku. Bakal kena marah aku oleh Pak Ahmad kelak.” Balas rohmah kepada wanita yang sekarang ada dihadapannya itu.

“Tak tahu lah aku kenapa harus pagi-pagi ini. Tak penting pula bagi aku mau pagi, siang, sore atau malam pun, tak penting bagi aku. Yang penting aku harus dapat sedekah itu. Tak apa lah itu Rohmah, kau tahu idak, jarang-jarang ada orang seperti ini ni! Tadi aku udah lihat banyak nian orang-orang sudah pergi ke balai desa ndak ambil sedekah itu.”

“Baiklah, tapi kau tahu idak bakal apa yang di kasih orang itu untuk kita?”

“Pertanyaan apa pula itu lagi yang kau tanya Rohmah? Buat aku jengkel benar kau ini! Kata orang-orang bakal dikasih duit 100.000 ribu dan sarung kita katanya! Baiknya cepatlah kita! Tambah banyak orang kelak, nggak dapat pula kita!” Ajak wanita itu.

“Baiklah itu, aku juga nggak ada duit mau beli baju raya untuk anak-anak ku.” Balas Rohmah.

Lalu kemudian mereka pergi menuju balai desa.

***

Dari kejauhan Rohmah melihat telah banyak orang tumpah ruah dibalai desa yang tidak terlalu luas tersebut. Rohmah meletakkan sepedanya disalah satu sudut dibagian rumah warga yang tidak terlalu jauh dari balai desa. Ia kemudian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa beserta temannya dan menuju balai desa. Jarak 25 meter dari balai desa, begitu padat orang. Seperti segerombolan semut yang sedang memperebutkan gula yang telah ditemukannya. Rohmah menerobos orang-orang tersebut. Ia tidak peduli kepada kawanan orang-orang yang begitu mengharapkan sedekah dari orang yang tidak mereka kenal siapa dan dari mana tersebut. Kawan yang telah mengajaknya pergi pun, tiada diingatnya lagi. Yang ada di pikiran Rohmah sekarang, ia harus mendapatkan sedekah itu. Mendapatkah tanpa harus bekerja keras. Suatu hal yang tidak pernah dilakukannya. Rohmah membayangkan ia akan membelikan baju kepada putra-putranya yang sejak meninggalnya suaminya, Jaka, tidak pernah sekalipun ia membelikan baju raya lagi kepada anak-anaknya. Dapat makan, telah sebuah anugrah baginya. Apa lagi dapat membelikan sebuah baju raya baru kepada ketiga putra-putranya. Suatu yang luar biasa bagi Rohmah. Terlebih kedua putra kembarnya. Ada pun baju yang pernah dibelinya adalah baju bekas yang kemudian dibungkusnya begitu rapi baru setelah itu diberikan kepada putranya. Ia masih sempat membayangkan senyum manis kedua putranya yang masih begitu kecil ketika mendapatkan sebuah baju darinya. Meskipun anak-anaknya tidak mengetahui hal itu bukanlah sebuah baju baru. Rohmah terus melangkah, ia kesulitan menerobos orang yang begitu banyak tersebut. Terlalu banyak orang! Dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, Rohmah berusaha melihat ke depan, ia dorong orang yang ada didepannya agar dapat menuju ke depan. Dengan tenaga yang tidak begitu kuat, ia memaksakan dirinya untuk terus melangkah dan terus melangkah meski ia merasa badannya mulai merasa kelelahan, tenaganya seperti terkuras habis. Ia seperti kesulitan bernafas dengan tubuh yang telah mulai kehilangan. Ia merasa seperti ada seonggok beban yang menghimpit tubuhnya, menari-nari dengan bebas tanpa menghiraukan apa yang ada dibawahnya. Karena orang-orang di atas hanya melihat ke langit luas. Yang ada didalam pikiran mereka adalah hadiah. Hadiah yang didapat tanpa bekerja keras. Hanya datang berdesak-desakan lalu kemudian mendapatkan sesuatu yang sangat bernilai bagi mereka.

Rohmah masih terus membayangkan ia akan membelikan baju baru untuk anak-anaknya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites