Senin, 06 Juni 2011

Petani dan Bulir-bulir Padinya



Akhir-akhir ini isu pengadaan impor beras akan kembali dibuka oleh pemerintah. Hal ini diakibatkan karena minimnya stok/cadangan beras di bulog karena disebabkan perubahan cuaca yang ekstrim, serangan hama dan mulai berkurangnya lahan pertanian yang telah dikonversikan menjadi lahan perkebunan sawit.

Kekurangan ini rencananya akan ditutupi dengan mengimpor. Wacana kebijakan impor beras ini ditentang oleh petani beras yang diwakili oleh Henry. Menurut Henry, kebijakan ini akan menghamburkan devisa yang dimiliki negara, serta dapat menekan produksi beras lokal yang ada di dalam negri dan akan dapat melemahkan kemampuan Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan yang diproduksi dalam negri. Henry menganggap rencana terhadap impor beras ini menunjukkan pemerintah telah gagal menyiapkan ketersediaan pangan nasional.

Hal ini dapat dilihat dari reaksi dan aksi yang dilakukan oleh pemerintah dan petani. Hasil pangan/beras nasional merosot diakibatkan oleh perubahan cuaca yang ekstrim. Beberapa tahun terakhir, pertemuan-pertemuan internasional telah banyak dilakukan untuk membahas fenomena perubahan iklim. Pertemuan-pertemuan ini menghasilkan kesepakatan, yaitu negara-negara di seluruh dunia bersepakat untuk mengurangi kandungan gas emisi karbon di negaranya masing-masing. Perubahan iklim yang begitu drastis ini bermula dari ditemukannya mesin uap dan berkembangnya peradaban umat manusia yang tidak dibekali dengan penyelamatan dan perlindungan ekosistem dunia, sejak dimulainya industri pertama kali dua abad yang silam. Selain itu, perubahan iklim di dunia juga disebabkan bertambahnya jumlah umat manusia (juga berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran) menghuni bumi yang luasnya tidak pernah bertambah sedikit pun, sehingga dibutuhkan lahan yang begitu luas untuk menunjang kehidupan umat manusia dan dimulai lah praktek-praktek penggundulan hutan yang sangat besar terjadi dimana-mana, baik untuk tujuan pembangunan maupun untuk kepentingan komersil (pribadi) tanpa penghijauan kembali. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, baik berkolusi dengan aparatur pemerintah maupun dengan cara-cara yang illegal. Sehingga tidak sedikit dari praktek-praktek penebangan liar ini yang telah tertangkap. Kasus-kasus seperti ini dapat kita lihat seperti yang terjadi di Riau, Kalimantan dan berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia. Contoh lain dapat kita lihat di Ibu kota Indonesia, Jakarta, dimana lahan –lahan hijau telah banyak diubah menjadi gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah, pada hal kebijakan seperti ini akan sangat merusak tata kota yang seharusnya sebagai lahan hijau penyangga paru-paru kota tetapi telah disulap menjadi bangunan-bangunan pemuas nafsu hedonisme manusia. Dan ini terjadi di kota-kota besar yang ada di seluruh Indonesia.

Penurunan produktivitas pertanian disebabkan banyaknya hama yang merusak tanaman padi. Perubahan iklim yang begitu cepat sangat memungkinkan bagi hama-hama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi sehingga metoda-metoda penghalauan dan pembasmian hama yang digunakan selama ini tidak lagi cocok untuk mengatasinya. Banyak dari petani kita yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia masih menggunakan cara-cara lama untuk menghalau hama (seperti pembuatan orang-orangan sawah untuk menghalau burung yang akan memakan padi atau menjaring burung dengan menggunakan jaring ikan dan membakar rumpu kering untuk mengeluarkan tikus dari lubang dan kemudian membunuhnya) serta penggunaan racun pembasmi hama yang telah resisten terhadap hama. Sehingga produktivitas hasil panen tidak dapat meningkat. Cara-cara ini masih diyakini para petani sebagai cara atau solusi yang tepat untuk menghalau dan membasmi hama.

Penurunan produktivitas panen juga disebabkan oleh semakin kecilnya luas areal lahan pertanian yang telah di alih fungsikan menjadi tanaman perkebunan, seperti sawit. Komoditi ini sangat di sukai oleh petani karena proses produksi, panen dan akses ke pasar yang relative sangat mudah dan cepat, tidak seperti produk pertanian. Akibatnya banyak dari lahan pertanian yang telah berubah bentuk menjadi hutan kecil (sawit) yang tertata apik. Jika diperbandingkan antara tanaman padi dan sawit untuk satu (ha) lahan, tanaman padi dapat memproduksi rata-rata per sekali panen (selama 4 bulan) menghasilkan pendapatan kotor sebanyak tujuh juta lima ratus rupiah dan untuk tanaman sawit menghasilkan (dalam jangka waktu yang sama) sebanyak delapan juta rupiah. Dari segi hasil panen (kotor), selisih yang didapat sebanyak lima ratus ribu rupiah. Untuk hama, padi lebih rentan untuk terkena hama bila dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit. Hama yang paling mengganggu kelapa sawit yaitu binatang babi, namun setelah tanaman kelapa sawit bertumbuh dewasa, hama babi tidak menjadi hama yang paling mengganggu lagi karena tanaman kelapa sawit telah tumbuh lebih tinggi dibandingkan hama babi. Lain halnya dengan padi, hama yang mengganggunya lebih banyak dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit, seperti hama wereng, burung, tikus, dan penyakit tanaman padi yang lain. Proses panen sampai kepada penjualan, padi membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Sedangkan tanaman kelapa sawit, jika telah di panen maka petani dapat langsung menjualnya kepada toke (pembeli sawit dari petani untuk dijual kembali kepada PKS). Atas dasar keunggulan-keunggulan ini banyak dari petani yang beralih dan menanam lahan pertanian mereka menjadi tanaman sawit, sehingga jumlah produksi padi dan beras menjadi turun.

Masalah-masalah ini tentunya tidak dapat hanya dilakukan dengan hanya mengeluarkan kebijakan impor beras. Sesaat, masalah kekurangan ini dapat terselesaikan dengan segera, namun masalah yang sebenarnya sedang menghadang di depan mata. Jadi menuntut langkah dan antisipasi yang tepat, agar kekurangan pangan dapat teratasi dengan bijaksana.

Satu hal yang pasti dalam teori ekonomi dikatakan bahwa, jika kelebihan permintaan (excess demand) dari kurangnya supply suatu barang akan mengakibatkan harga barang tersebut naik. Tentu kebijakan impor beras ini akan mengakibatkan harga beras di dalam negri berfluktuasi dan mengikuti harga komoditi beras yang telah di impor. Disatu sisi hal ini baik jika dilakukan dalam jangka pendek dan sifatnya mendesak, tetapi jika kebijakan ini berlangsung sangat lama dan bersifat terus menerus, maka akan dapat mematikan produksi beras nasional.

Pemerintah seharusnya melakukan pendataan yang menyeluruh, baik dalam aspek lahan, ketersediaan pupuk, bibit, serta penggunaan teknologi yang dilakukan para petani. Setelah itu pemerintah menjamin ketersediaan pasar (baik di dalam maupun di luar negri) dengan mekanisme pembentukan harga yang tepat antara petani dan konsumen.

Kebijakan impor beras memberi kesan bahwa pemerintah lepas tangan dan tidak mau tahu dengan kekurangan pangan nasional (jika pangan kurang, lakukan impor, masalah pun selesai!) Dengan menggunakan dalih yang sangat manis, pemerintah dapat saja menggunakan teori Perdagangan internasional kebanggaan Adam Smith (Teori keunggulan absolute) untuk meninabobokkan masyakarat yang senang dibuai dengan kata-kata manis, bahwa impor merupakan suatu hal yang sangat tepat dan bijaksana untuk dilakukan! Tanpa mau tahu apa penyebab dibalik kurangnya pangan nasional serta menyelesaikannya!

Jika dilihat dari sisi produksi, para petani banyak yang kesulitan mendapatkan pupuk dan jika ada, harganya sangat tinggi. Hal ini terlihat kurangnya pengawasan dari pemerintah yang berakibat bertambah susahnya hidup para petani. Hal ini dapat diatasi melalui pendataan luas lahan dan kebutuhan pupuk setiap daerah. Selain itu, bibit padi yang banyak digunakan para petani adalah bibit turun temurun, sehingga hasil yang didapat, semakin lama semakin kecil. Serta masih banyak para petani yang mengandalkan hujan untuk mengairi sawah-sawah mereka, seperti yang dilakukan beberapa tahun yang lampau. Kembali terlihat bahwa pemerintah terkesan tidak peduli untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Untuk itu perlu kembali mendata dan membuat system irigasi yang mendukung sehingga petani tidak lagi mengharapkan hujan untuk membasahi sawah mereka dengan cuaca yang tidak lagi menentu. Pembinaan para petani pun dirasa sangat kurang. Ini dibuktikan dengan sangat kurangnya tenaga penyuluh pertanian. Sehingga banyak dari para petani hanya mengandalkan ilmu pertanian yang telah diterimanya dari orang tua mereka. Hal ini dapat terlihat masih adanya para petani menggarap sawah mereka dengan menggunakan kerbau. Hal ini Kontras sekali dengan keadaan saat sekarang ini dimana teknologi telah berkembang dengan sangat majunya. Dan lagi terlihat dalam hal ini bahwa pemerintah sepertinya masih lepas tangan dengan urusan yang sangat penting (seperti kebutuhan primer : nasi : kebutuhan pokok masyarakat Indonesia)

Jika dilihat dari sisi akses ke pasar, banyak dari para petani yang tidak mengetahui harga gabah yang sebenarnya, sehingga hal ini dimanfaatkan dan menjadi kesempatan bagi para tengkulak untuk meraup keuntungan lebih dari para petani. Sehingga terlihat kembali kurangnya pengawasan dari pemerintah dan membuat para petani menjadi rugi.

Sumber gambar [1]

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites