Akhir-akhir ini banyak hal telah terjadi di dunia. Mulai dari bencana alam yang terjadi di Jepang dan bahaya radiasi nuklirnya, sampai pada revolusi yang sedang terjadi di Libya. Revolusi yang sebelumnya terjadi di Tunisia dan Mesir, berhasil menumbangkan pemerintahan Zine El Abidine Ben Ali yang berkuasa di Tunisia selama 23 tahun serta Hosni Mubarak yang telah memimpin Mesir selama 30 tahun. Hal ini memberikan motivasi bagi rakyat Libya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan rakyat Tunisia dan Mesir.
Revolusi yang saat ini terjadi di Libya, berada pada masa-masa penting dan bersejarah bagi rakyat yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka, yang selama ini telah direbut oleh pemerintahan yang dipimpin oleh Khadafi dan telah berkuasa selama 41 tahun.
Perjuangan rakyat Libya ini mendapat dukungan penting dari dunia. Seperti operasi zona larangan terbang yang disahkan oleh badan PBB, serta dukungan dari badan NATO yang terdiri dari Amerika Serikat, Prancis dan Inggris, melalui dengan cara mengirimkan pasukan tempur mereka yang bernama “Pasukan Koalisi” yang bertugas melemahkan kekuatan tentara pemerintah dan melindungi rakyat sipil dari serangkaian serangan pasukan yang dipimpin Khadafi.
Perjuangan yang Berharga Mahal
Segala tindakan punya harga, termasuk perjuangan yang saat ini tengah dilakukan oleh rakyat Libya. Perjuangan ini dibayar dengan banyaknya korban jiwa yang jatuh dari kedua belah pihak, baik itu pihak yang pro kepada pemerintah juga terhadap pihak yang kontra kepada pemerintah. Menurut Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (IFHR), sedikitnya 640 orang terbunuh dalam aksi protes terhadap rezim Moamar Khadafi di Libya (Mediaindonesia.com 23/2/2011) dan mungkin akan terus dapat bertambah. Selain itu, perjuangan ini juga berakibat banyaknya gedung-gedung seperti pusat pemerintahan dan pusat pemukiman penduduk yang rusak. Tidak hanya itu, sebagai salah satu negara produsen minyak, Libya mengalami dampak yang serius dalam bidang ekonomi, terutama pertumbuhan produksi minyak yang dihasilkannya. Sebelum terjadi krisis, Libya memproduksi minyak sebanyak 1,6 juta barrel per hari. Saat krisis berlangsung saat ini, produksi minyak Libya turun tajam hingga hanya 400.000 barrel per hari (Kompas, 13/3/2011)
Berakhirnya perjuangan ini akan membawa pengaruh penting bagi pemerintahan Libya kedepannya. Pengaruh ini akan berdampak bagi siapa saja yang nantinya akan duduk sebagai wakil rakyat yang akan menjalankan roda pemerintahan. Kejadian ini juga menjadi hari paling bersejarah bagi rakyat Libya dan dunia, yang memperlihatkan bahwa, tidak selamanya rakyat akan diam jika hak-hak mereka dirampas oleh “orang-orang” yang telah diberikan kepercayaan untuk menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi berbuat yang sebaliknya dan tidak diharapkan oleh rakyat.
Sumber gambar [1]







0 komentar:
Posting Komentar