Siang yang begitu terik, tidak menyurutkan langkah seorang laki-laki untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diharapkannya. Tetesan-tetesan mata air yang mengucur deras dari dalam tubuhnya mulai membasahi bajunya. Tampak ia begitu lesu. Mulai tertatih-tatih melangkah dengan sekarung beban dipundaknya. Ditaruhnya beban yang ada dipundaknya ke dalam sebuah truck yang berisi berkarung-karung kopi yang akan dijual ke luar daerah kemudian kembali ke gudang dan mengangkut karung-karung yang berisi kopi. Sesekali ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang melilit dibagian lehernya kemudian mengibas-ngibaskannya. Terlihat ia begitu panas dan kehausan.
“Mat,” sahut seorang rekannya yang sedang beristirahat melepas lelah bersama rekan-rekannya yang lain.
“Udahlah Mat, kau seperti orang banyak masalah. Tak kau saja yang punya masalah. Aku pun juga. Tak usahlah terlalu kau pikirkan. Kau itu masih muda. Minumlah dulu air ini. Pucat benar wajahmu ku lihat?” ajak rekannya yang bernama handoko.
“Aku puasa Ko. Kau minum saja lah air itu.” Jawabnya tenang.
“Tak usahlah kau terlalu munafik Mat! Aku tahu kau itu haus, lapar pula. Tak ada duit kau mau beli nasi? Kau bolehlah makai duit aku dulu, setelah kau punya, bolehlah kau bayar, tapi ingat, bunganya.” Ejek rekannya itu sambil tertawa dengan begitu senangnya.
Mamat tidak terima dengan ejeken dari rekannya itu. Ia sedapat mungkin meredam emosinya. Ia tidak ingin puasa yang telah dijalankannya batal hanya karena orang seperti handoko.
Setelah selesai beristirahat sejenak, Mamat kemudian meneruskan pekerjaannya.
“Mat, jalan mu bak penari ular yang biasa ku tonton di pasar malam. Kiri, kanan, kiri lagi, kanan lagi, ha,ha…” ejek salah seorang lagi rekan sekerjanya sambil memperagakan gerak langkah kaki Mamat sedang membawa beban dipundaknya. Mamat benar-benar emosi melihat tingkah teman-teman sekerjanya itu. Tapi masih dapat ditahankannya emosi yang telah sampai ke ubun-ubun kepalanya seperti larva panas yang melesat keluar dari dalam perut bumi. Ia memang benar-benar lelah. Mungkin karena itu maka rekan-rekannya mengejeknya seperti penari ular yang pernah ditontonnya juga bersama anak istrinya beberapa bulan yang lalu sewaktu pasar malam singgah di desa mereka, pikir Mamat.
“Mat, kalau kau tak kuat lagi, tak apa kau buka. Bapak lihat kau letih sekali.” Kata majikannya yang berdarah tionghoa itu.
“Aku enggak apa-apa pak.” Jawab Mamat kepada majikannya yang begitu baik dan berjasa kepada keluarganya itu. Ia tidak dapat membayangkan jika majikannya itu tidak meminjamkan uang kepadanya ketika putri kecilnya diserang demam berdarah yang melanda desa mereka beberapa minggu yang lalu.
Usai sudah pekerjaannya kepada majikannya siang itu. Mamat mendatangi majikannya untuk bermaksud meminjam uang lagi karena besok adalah hari raya Lebaran yang sangat dinanti-nantikan olehnya.
“Pak,” sapa Mamat kepada majikannya itu yang terlihat sibuk membolak-balikkan bukunya.
“Pak,” sahut Mamat sekali lagi dengan nada agak keras.
“Oh iya, maaf Mat, Bapak tidak mendegar suara kau tadi. Ada apa?” Tanya majikannya.
“Begini Pak, besok adalah hari raya Idul Fitri, sedangkan saya tidak ada duit lagi Pak. Duit yang bapak kasih kemaren kepada saya sudah habis untuk berobat anak saya yang sakit. Saya bermaksud ingin meminjam duit lagi kepada bapak.” Ucap Mamat dengan agak ketakutan.
“Apa! Tak tahu diri kau Mat. Tak tahu kau, utang mu udah satu juta dengan saya. Nak kau bayar pakai apa itu, Mat? Bekerja kau siang malam belum tentu dapat uang sebanyak itu, Sekarang kau mau pinjam uang lagi. Tak ada otak kau mat! Tak kau pikirkan badan kau yang udah kurus itu. Kau paksa pula lagi mau pinjam duit. Klak kau mati siapa yang bayar utang-utang kau itu. Asal kau tau Mat, saya meminjamkan duit kek kau kemaren itu karena indak tega aku melihat anak kau kelak mati. Tapi kau indak sadar! Kau itu miskin Mat. Tak pantas kau mau beli-beli baju raya baru seperti yang kau bilang dengan kawan-kawan kau itu. Kau miskin, mau berlagak seperti orang kaya. Enggak sanggup kau Mat seperti itu. Tidak pantas! Sadarlah sedikit kau itu!. Kau kira saya indak tahu maksud kau mau minjam duit lagi. Saya ada duit, tapi untuk dipinjamkan kek kau itu indak ada. Kau tahu itu. Pergilah kau sekarang! Ini duit gaji kau hari ini. Tak ingin aku lihat kau sekarang. Pergilah cepat. Pusing aku melihat muka kau yang kusam itu. Tak berselera aku. Jadi berantakan semua kerjaanku gara-gara kau itu. Pergilah!” bentak majikannaya.
Mamat benar-benar tidak menyangka akan semarah itu majikannya kepada dirinya yang telah lelah ini. Ia ambil uang yang tergeletak dimeja majikannya itu, kemudian pergi meninggalkan bosnya yang terlihat sibuk menekan calculator dan melihat buku-buku yang berserakan dimeja.
Mamat bingung, akan ia apakan duit lima belas ribu ditangannya. Ia masih teringat dengan ketiga putranya yang menuntut untuk membeli baju raya seperti yang telah dijanjikannya dahulu.
Mamat pergi dan menuju ke pasar untuk membelanjakan duit yang telah didapatkannya dari hasil jerih payahnya selama satu hari untuk membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan mereka.
***
Sesampainya di pasar, Mamat melewati sebuah toko pakaian dan melihat anak-anak seusia anaknya sedang mencoba baju yang akan dibeli mereka besera kedua orangtuanya. Lama Mamat termenung melihatnya. Ia membayangkan bahwa orang itu adalah dirinya beserta istri dan ke empat putra putrinya.
Begitu banyak orang dipasar itu. Suara hingar bingar kendaraan, suara pekikan para penjual, teriakan peluit dari tukang parkir, tangis anak-anak, dan suara yang membisingkan telinga lainnya.
Sampai lah Mamat ke pedagang yang menjual bahan-bahan keperluan makan. Kemudian terjadi tawar menawar antara Mamat dan pedagang itu. Tidak banyak yang Mamat beli. Karena uang yang ada padanya hanya lima belas ribu rupiah. Ingin rasanya ia memborong semua bahan-bahan keperluan memasak yang dijajakan pedagang itu, tapi ia tahu bahwa uang yang ada padanya tidaklah mencukupi untuk membeli keseluruhannya itu. Cabe, ikan asin kesukaan keluarga mereka, beberapa suing bawang merah dan putih serta beberapa bumbu dapur lainnya telah membuat ia merasa cukup puas dapat membawa itu kepada istri dan anak-anaknya. Meskipun masih ada angan-angan anak-anaknya untuk memakai baju baru dihari yang penuh kemenangan yang belum dapat diwujudkannya.
Kemudian ia meninggalkan pedagang itu yang terlihat sibuk melayani pembeli-pembeli yang lain. Pembeli yang memiliki materi yang berkecukupan. Atau mungkin hanya belagak seperti orang yang berkelebihan materi, pada hal tidak. Miskin!
“Tidak seperti diriku” gerutu Mamat dalam hati.
Mamat benar-benar merasa putus asa dengan kondisinya. Dintengah kondisinya yang terlihat benar-benar seorang putus asa dan tidak terlihat semangat hidup sedikit pun jua tiba-tiba tidak beberapa jauh dari lokasi tempat Mamat berbelanja bahan keperluan dapur, terdengar olehnya seorang wanita berteriak.
“Maling!Maling!” Teriak wanita itu dengan sangat keras.
Mamat mendengar hal itu. Terlihat olehnya seorang pemuda melintas didepannya sambil memegang sebuah tas hitam dan berbelok ke kanan dari tempat ia berdiri. Tanpa berfikir panjang Mamat berlari mengejar laki-laki yang membawa tas itu beserta segerombolan orang yang mengikutinya dari arah belakang.
“Maling…!Maling…!” teriak orang yang ada di belakangnya.
Diperempatan gang, Mamat dapat meraih pundak laki-laki itu. Sejurus kemudian laki-laki itu menjatuhkan tas yang dipegangnya kemudian berlari meninggalkan Mamat beserta orang-orang yang berada dibelakangnya dan menghilang meninggalkan mereka.
“Syukur lah” kata Mamat kepada orang-orang yang berada dibelakangnya.
Dari arah orang banyak itu datang sesosok wanita muda menghampiri Mamat.
“Anda yang telah mendapatkan tas saya itu?” Tanya wanita itu sambil menunjukkan jari-jarinya yang putih mulus ke arah sebuah tas yang sekarang berada ditangan Mamat.
“Iya benar, ini tas yang Ibu punya?” Mamat menyodorkan tas yang ada padanya kepada wanita itu.
“Iya, makasih ya, bapak sudah menolong saya.” Ucap wanita itu sambil mengambil tas yang telah disodorkan kepadanya.
Mamat terdiam melihat gadis yang cantik jelita dihadapannya itu. Tubuhnya kaku seperti sebuah tiang listrik yang menjulang tinggi menembus langit-langit cakrawala kehidupan.
“Hallo…” sapa wanita itu, yang membuyarkan lamunan Mamat. Dilihatnya orang-orang yang banyak yang berada dibelakangnya tadi telah bubar meninggalkan mereka berdua, Mamat dan wanita muda cantik jelita.
Ditengah kekikukkan Mamat, wanita muda itu mengeluarkan beberapa lembaran uang lima puluh ribuan dari dompet yang ada didalam tasnya kemudian menyodorkannya kepada Mamat.
Ditengah kebingungan yang dialami Mamat, ia seperti berfikir, ini kah keajaiban yang diberikan Allah kepadaku? Tanya Mamat dalam hati. Ia benar-benar bimbang saat ini. Disatu sisi Mamat ingin mengambil uang yang telah disodorkan kepadanya. Karena Mamat sangat membutuhkan uang itu untuk mewujudkan keinginan anaknya seperti yang telah dijanjikannya. Disisi lain hati kecil Mamat mengatakan Tidak! Jangan terima pemberian wanita itu! Itu namanya kau menolong tidak pamrih.
“Maaf sebelumnya bu, saya tidak dapat menerima pemberian Ibu.” Kata Mamat kepada wanita muda itu.
“Saya memberikan ini kepada Bapak atas ungkapan terimakasih saya karena Bapak telah menolong saya. Yang saya berikan ini tidak lah seberapa dari pertolongan Bapak kepada saya.” Balas wanita itu.
“Maaf bu, saya tidak dapat menerimanya.” Jawab Mamat tegas.
“Baiklah kalau begitu. Saya tidak memberikan uang ini kepada bapak. Tetapi saya akan memberikan yang lain, dan hal itu bapak yang mengatakannya.”
“Tidak usah bu, terimakasih, saya menolong ibu, iklas.”
“Bapak tidak perlu bersikap seperti itu, mumpung ini bulan puasa dan lagi pula besok adalah hari raya Idul Fitri jadi tidak ada salahnya khan memberikan sesuatu kepada sesamanya?” Tanya wanita itu kepada Mamat.
“Aduh, bagaimana ya bu…” kemudian Mamat menceritakan keinginanya untuk membelikan baju baru kepada anak-anaknya.
Tanpa Mamat duga, wanita muda itu mengajaknya ke sebuah toko pakaian yang begitu besar. Ternyata toko itu adalah kepunyaan wanita muda yang di tolongnya itu. Mamat bersyukur, ternyata Tuhan mendengar seruan-seruan hambanya yang mau terus ikut bersama-sama didalam Dia dan tidak meninggalkan-Nya dalam keadaan apa pun jua.







0 komentar:
Posting Komentar